Easy Come Easy Go, atau Mengapa Rezeki Kadang Datang Seperti Mantan

by - 6:00 AM


Saya mulai memahami satu hal setelah cukup lama hidup sambil nyengir sendiri:
yang datang terlalu mudah, biasanya pergi tanpa pamit.
Bukan karena ia jahat, tapi karena ia memang tidak pernah niat tinggal.

Orang menyebutnya easy come easy go.
Saya menyebutnya: rezeki yang mampir sebentar cuma buat numpang foto.

Contohnya banyak dan absurd.
Uang bonus yang datang tiba-tiba—hilangnya juga tiba-tiba, biasanya lewat barang yang katanya “diskon banget, rugi kalau nggak beli.”
Followers naik cepat karena satu konten viral—turunnya juga cepat saat algoritma bangun tidur dengan suasana hati berbeda.
Popularitas instan—ramainya sebentar, lalu sepi seperti warung yang salah pasang spanduk.

Ada juga ide-ide brilian yang muncul jam dua pagi.
Terlihat jenius, terasa revolusioner.
Besok paginya?
Tidak ada tenaga untuk mengeksekusi, hanya sisa rasa sok pinter.

Saya pernah lihat orang kaya mendadak.
Bukan karena proses, tapi karena keberuntungan yang nyasar.
Ia bingung harus bersikap apa.
Karena yang datang tanpa perjuangan seringkali tidak membawa peta cara menjaganya.

Di titik itu saya melihat usaha daster saya sendiri.
Tidak lari.
Tidak meloncat.
Ia merayap. Pelan. Seperti siput yang sadar diri.

Setiap hari ada langkah kecil:
satu pembeli, satu obrolan, satu pengalaman ditolak tapi tetap senyum.
Tidak dramatis.
Tidak heroik.
Tapi nyata.

Kadang saya iri pada yang melesat cepat.
Tapi lalu saya ingat:
yang naik cepat sering tidak sempat belajar jatuh.
Begitu terpeleset, kagetnya bukan main.

Siput tidak kaget kalau hujan.
Ia sudah terbiasa basah.

Easy come easy go itu seperti mie instan.
Cepat, hangat, menghibur, tapi tidak bikin kenyang lama.
Yang dimasak pelan—meski kelihatannya lama—biasanya lebih nempel di perut dan ingatan.

Makanya saya mulai berdamai dengan lambat.
Dengan tidak viral.
Dengan tidak meledak-ledak.

Saya tidak ingin hard come easy go.
Saya ingin hard come, stay awhile, dan bayar listrik tepat waktu.

Epilognya sederhana:
kalau sesuatu bertahan, mungkin itu karena ia diajak tumbuh, bukan dipaksa mekar.

Dan kalau rezeki saya jalannya siput, tidak apa-apa.
Selama bukan siput yang panik ingin terbang.

You May Also Like

0 komentar