Laut Ngobrol Sendiri, Kami Cuma Jadi Ombak yang Mengangguk
Pada akhirnya, yang paling jujur dalam cerita ini bukan manusia.
Melainkan laut.
Ia tidak ikut rapat.
Tidak punya kartu pers.
Tidak pernah dipanggil aparat.
Namun ia menyimpan lebih banyak rahasia negara dibanding arsip mana pun.
Dalam Laut Bercerita, saya tidak merasa sedang membaca kisah aktivisme.
Saya merasa sedang duduk di tepi pantai, sementara laut—tanpa diminta—mulai curhat.
Katanya pelan:
“Tenang saja, aku tidak lupa.”
Nama-nama yang hilang itu tidak tenggelam.
Mereka hanya berpindah alamat—dari tubuh ke arus, dari ingatan ke gelombang.
Laut tidak pernah bertanya ideologi sebelum menelan,
tapi ia sangat rapi menyimpan.
Biru tumbuh bukan dari kehilangan, tapi dari kekosongan yang terus dipelihara negara.
Ia mencari ayah dan ibunya seperti orang mencari kunci yang sengaja disembunyikan sambil dibilangi,
“Sudah ikhlas saja.”
Dan laut tertawa kecil.
Tertawa khas makhluk purba yang sudah melihat terlalu banyak rezim datang dan pulang tanpa pamit.
“Manusia lucu,” katanya.
“Hilang satu generasi, lalu pura-pura lupa.
Padahal lupa itu kerja keras. Aku saja tidak bisa.”
Dalam surealisme yang sunyi itu, saya membayangkan laut duduk bersila,
memegang daftar nama,
menyilangkannya satu per satu sambil berkata:
“Masih ada. Masih saya jaga.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada darah yang dipamerkan.
Hanya kesetiaan cair yang bekerja diam-diam.
Dan mungkin di situlah letak keindahannya yang paling menyakitkan:
bahwa yang paling setia mengingat sejarah kita
bukan monumen,
bukan buku pelajaran,
melainkan sesuatu yang terus kita datangi sambil liburan.
Kita berfoto di depannya.
Ia menyimpan luka kita di dalamnya.
Jika laut benar-benar bisa bicara, mungkin ia akan berkata begini kepada Biru—dan kepada kita semua:
“Aku tidak minta kalian marah terus.
Aku hanya minta kalian jangan sok lupa.”
Lalu ombak datang.
Bukan untuk menghapus jejak,
tapi memastikan:
cerita ini belum selesai.
0 komentar