Puasa yang Ditenangkan, Lebaran yang Dipamerkan
(Seri Kedua)
Puasa, kalau dijalani dengan benar, itu efek sampingnya aneh.
Bukan makin galak, tapi justru makin kalem.
Bukan makin suci, tapi makin sadar: oh, ternyata saya selama ini berisik.
Di minggu-minggu awal Ramadan, saya masih sok kuat.
Menahan lapar sambil merasa berjasa.
Hari ke-7 ke atas, rasa heroik itu rontok sendiri.
Yang tersisa cuma lelah, haus, dan satu kesadaran kecil: saya tidak sepenting itu.
Dan di situlah puasa mulai menenangkan.
Tenang karena tidak semua harus ditanggapi.
Tenang karena tidak semua komentar perlu dibalas.
Tenang karena ternyata diam itu tidak membuat dunia runtuh.
Bahkan emosi ikut diet.
Yang biasanya meledak-ledak, sekarang cuma mendesah.
Yang biasanya ingin menang debat, sekarang mikir, “ngapain juga?”
Puasa seperti mode silent pada ponsel batin.
Notifikasi masih ada, tapi kita memilih tidak langsung klik.
Masalahnya, ketenangan ini umurnya pendek.
Karena begitu hilal Lebaran muncul, dunia berubah jadi panggung mode dadakan.
Yang sebulan lalu pamer kesabaran, sekarang pamer lengan.
Yang kemarin menahan diri, hari ini menahan pose biar kelihatan kurus.
Lebaran itu unik.
Satu-satunya hari di mana orang bisa makan berlebihan sambil mengucap alhamdulillah tanpa rasa bersalah.
Satu-satunya momen di mana outfit lebih dulu dinilai sebelum akhlak.
Saya perhatikan, feed Lebaran jarang menampilkan wajah tenang.
Yang ada wajah cerah dengan caption spiritual.
Tenang di teks, kompetitif di foto.
Padahal puasa baru saja mengajari kita seni hidup paling mahal: cukup.
Cukup makan.
Cukup bicara.
Cukup pamer.
Tapi Lebaran sering salah tafsir.
Tenang disangka loyo.
Sederhana dianggap kurang niat.
Tidak upload dicurigai tidak bahagia.
Akhirnya, banyak yang puasa untuk menenangkan batin,
lalu Lebaran untuk mengganggunya kembali.
Saya tidak sedang anti pamer.
Saya juga manusia, juga suka kelihatan rapi, juga senang dipuji.
Tapi ada momen lucu ketika seseorang bilang,
“Yang penting kan hatinya bersih,”
sambil lima menit kemudian bertanya,
“Bajumu beli di mana?”
Puasa itu latihan melepas ego.
Lebaran sering jadi ajang mengajak ego naik panggung lagi, lengkap dengan lampu dan filter.
Yang satu mendidik kita untuk merunduk.
Yang satu sering menggoda kita untuk mendongak.
Dan di situ saya ketawa sendiri.
Ternyata yang sulit bukan menahan lapar sebulan penuh.
Yang sulit itu menjaga ketenangan setelah kenyang.
Puasa selesai di waktu Maghrib.
Tapi apakah efeknya ikut selesai,
atau justru diuji habis-habisan di hari pertama Lebaran?
Itu pertanyaan kecil yang saya simpan,
sambil pelan-pelan menyuap rendang
dan berusaha tidak mengunggah foto keempat dari sudut yang sama.
0 komentar