Internet Belum Ada, Tapi Hantu Wastafel Sudah Nasional
Saya sudah tidak terlalu tertarik lagi membahas apakah jin benar-benar tinggal di pipa wastafel atau hanya numpang lewat di lemak sabun. Jujur saja, bagian itu sudah tidak lucu. Yang jauh lebih lucu justru polanya: bagaimana sebuah larangan domestik bisa menyebar ke banyak kota dan pulau, jauh sebelum internet, tanpa brosur, tanpa iklan layanan masyarakat, tanpa siaran televisi.
Saya tumbuh di masa ketika internet belum sampai ke kampung. Tahun 90-an sampai awal 2000-an, kami hidup dengan radio, TV satu rumah, dan gosip antar tetangga yang lebih cepat dari sinyal apa pun. Tapi anehnya, satu mitos bisa muncul dengan redaksi hampir sama di berbagai daerah: “Jangan buang air panas ke wastafel, nanti ganggu makhluk lain.”
Makhluk lain ini sejak kecil saya biarkan menggantung. Tidak ditanya, tidak diklarifikasi. Yang penting patuh. Baru belakangan, ketika media sosial memberi panggung pada video-video sederhana ibu-ibu, mitos itu muncul lagi—kali ini lengkap dengan caption bernuansa agama. Ketika ada yang bertanya polos di kolom komentar, “Makhluk lain itu apa, kak? Serangga?” jawabannya lugas dan mantap: jin.
Seperti biasa, dunia pun terbagi tiga.
Yang mengamini dengan penuh keyakinan.
Yang menertawakan dengan logika kasar: “Hantu tolol ngapain ngumpet di pipa wastafel?”
Dan yang diam saja, menonton sambil menyeruput kopi.
Saya ada di posisi keempat: bukan tertarik pada hantunya, tapi pada bagaimana cerita ini bisa menyebar begitu rapi.
Karena kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal wastafel. Ini satu paket lengkap: jangan nyapu malam, jangan nyiram kamar mandi tengah malam, jangan nyanyi di dapur, jangan duduk di pintu. Semua terjadi di ruang domestik. Semua menyasar anak-anak. Semua punya satu fungsi utama: membuat rumah tertib tanpa perlu penjelasan panjang.
Di era ketika pengetahuan teknis tentang pipa, saluran air, dan sanitasi belum umum, metafisika adalah jalan pintas paling efisien. Jin tidak perlu dijelaskan. Jin tidak bisa dibantah. Jin juga tidak akan minta klarifikasi. Selesai. Rumah aman. Anak patuh. Ibu tidak perlu debat.
Yang membuat saya geli adalah: cara penyebarannya.
Bukan lewat media. Tapi lewat manusia.
Lewat ibu yang merantau.
Lewat pernikahan lintas daerah.
Lewat obrolan dapur dan ruang tamu.
Lewat kalimat sakti: “Dari dulu katanya begitu.”
Dan entah bagaimana, “katanya” ini bisa lintas pulau.
Hari ini, ketika mitos itu muncul lagi di layar ponsel, lengkap dengan dalil, kutipan, dan kolom komentar yang ribut, saya justru tidak merasa perlu marah. Saya lebih tertawa melihat betapa seriusnya kita memperdebatkan sesuatu yang dulu hanya alat praktis untuk mengatur rumah tangga.
Mungkin, hantu wastafel bukan makhluk gaib.
Ia adalah jejak dari zaman ketika rasa takut dipakai sebagai bahasa cinta paling cepat.
Dan sekarang, ketika kita sudah punya pengetahuan lain, yang lucu bukan mitosnya—melainkan betapa mitos itu pernah bekerja dengan sangat efektif.
Internet belum ada, tapi hantu wastafel sudah nasional.
Dan jujur saja, itu prestasi sosial yang luar biasa.
0 komentar