Akuntabilitas Puasa: Catatan Orang yang Pernah Mengujinya

by - 12:00 AM

 

Siang itu saya teringat satu narasi yang sering diulang sejak kecil, di mimbar, di kelas ngaji, di poster Ramadhan yang hurufnya penuh bintang:

“Puasa itu milik Allah, dan Allah sendiri yang akan membalasnya.”

Kalimatnya terdengar agung. Sakral. Seolah ada transaksi rahasia antara manusia dan Tuhan yang tidak bisa diintip malaikat pencatat amal. Saya mengangguk waktu kecil, seperti anak baik pada umumnya. Tapi semakin dewasa, kalimat itu justru tinggal di kepala, mondar-mandir, menunggu disentuh.

Lalu suatu hari—ini pengakuan jujur—saya melakukan hal paling usil yang bisa dilakukan manusia yang sedang kepo metafisika:
saya sengaja tidak puasa.

Bukan karena lapar. Bukan karena sakit. Tapi karena penasaran.

Saya ingin tahu satu hal sederhana:
kalau puasa itu “milik Allah”, apa yang terjadi kalau Allah tidak mendapatkannya dari saya?

Tidak ada petir.
Tidak ada dada sesak.
Tidak ada hidup saya runtuh.
Tidak ada mimpi buruk dikunjungi malaikat sambil membawa kuitansi pahala.

Hari berjalan biasa saja. Tuhan tidak tampak kekurangan apa pun.

Di situ justru kebingungan saya dimulai.

Saya lalu bertanya ke guru ngaji. Dengan sopan, tentu. Saya tidak datang membawa perlawanan, hanya rasa ingin tahu yang terlalu jujur.

“Kenapa puasa disebut milik Allah? Apakah Allah membutuhkan puasa kita?”

Beliau diam sebentar. Lalu menjawab dengan versi yang sering kita dengar: “Ya… itu perintah. Kita jalani saja.”

Saya mengangguk. Bukan karena puas, tapi karena paham: pertanyaan saya memang tidak punya tempat di sana.

Sejak itu saya pelan-pelan mengerti:
banyak narasi agama dibangun bukan untuk menjelaskan Tuhan,
tapi untuk menjaga manusia tetap patuh.

Puasa, shalat, zakat—bukan karena Tuhan lapar pahala, tapi karena manusia perlu dilatih. Dilatih menahan, menunda, mengendalikan. Hanya saja, bahasa yang dipakai sering terlalu “tinggi”, sampai kita lupa bertanya: untuk siapa sebenarnya semua ini?

Kalau Tuhan Maha Kaya, Maha Sempurna, Maha Cukup, lalu puasa siapa yang sedang ditunggu-Nya?

Di titik itu saya berhenti menguji Tuhan.
Bukan karena takut.
Tapi karena sadar: yang sedang diuji sebenarnya bukan Tuhan, tapi ego saya sendiri.

Puasa bukan milik Allah dalam arti kepemilikan.
Puasa adalah cermin.

Ia tidak mengubah Tuhan sama sekali.
Ia hanya membuka wajah kita sendiri—apakah kita beribadah karena cinta, karena takut, atau karena kebiasaan.

Dan kalau suatu hari saya puasa lagi, itu bukan agar Tuhan “mendapatkan” sesuatu dari saya.
Tapi agar saya tidak terus-menerus ingin menguji yang tidak pernah perlu dibuktikan.

Ternyata, yang paling sering lapar bukan Tuhan.
Melainkan pikiran kita sendiri, yang ingin semua hal punya jawaban rapi.

Dan Tuhan—kalau boleh jujur—terlihat sangat santai menghadapi manusia yang sok penasaran seperti saya.

You May Also Like

0 komentar