Ideologi Paling Sempurna Selalu Butuh Musuh, Bahkan Kalau Tinggal Sendirian
Saya mulai dari satu kesimpulan yang bikin geli sekaligus capek:
ada orang yang tidak tahu bahwa ia sedang bias, lalu menyangka pikirannya sudah final. Dari situ, pemikiran itu tidak lagi hidup sebagai proses, tapi membatu menjadi ideologi. Dan seperti semua ideologi yang membatu, ia butuh bahan bakar. Bahan bakar itu bernama: musuh.
Masalahnya, musuh tidak selalu tersedia. Maka ia harus diciptakan.
Saya sering tertawa pahit melihat pola ini. Bukan karena lucu, tapi karena terlalu konsisten. Begitu seseorang yakin dirinya sudah berada di posisi paling benar, paling lurus, paling murni, maka dunia otomatis dibagi dua: “kami” dan “mereka”. Yang setuju dianggap sadar. Yang berbeda dianggap sesat, bodoh, atau belum tercerahkan. Tidak ada ruang untuk “mungkin saya keliru”, karena kalimat itu berbahaya—ia bisa meruntuhkan bangunan keyakinan yang sudah telanjur dijadikan rumah.
Ada anekdot ngeselin yang pernah saya dengar, sering dilemparkan ke kelompok ekstrem kanan (dalam agama apa pun):
“Kalau suatu hari semua orang di dunia ini sudah kamu anggap salah, dan tinggal kamu sendirian yang benar, maka kamu tetap harus bertengkar. Kalau tidak ada orang lain, kamu akan bertengkar dengan dirimu sendiri, supaya rasa ‘paling benar’ itu tetap hidup.”
Anekdot ini kasar, tapi tidak sepenuhnya salah. Karena ideologi yang mengklaim finalitas tidak hidup dari kebenaran, tapi dari kontras. Ia hanya terasa benar kalau ada yang bisa dituding salah. Begitu perbedaan lenyap, kegelisahan muncul. Dan kegelisahan itu berbahaya, sebab ia memaksa seseorang bercermin.
Di titik ini saya sadar, masalahnya bukan agama, bukan ideologi, bukan sains, bukan tradisi. Masalahnya adalah ketika pemikiran berhenti bertanya dan mulai mengkultuskan dirinya sendiri. Saat bias tidak lagi disadari, tapi justru dipakai sebagai palu untuk memukul dunia.
Ironisnya, hampir semua ideologi ekstrem mengklaim membela kemanusiaan. Tapi dalam praktiknya, mereka lebih sibuk menjaga benteng identitas. Yang penting bukan lagi “apa yang benar”, melainkan “siapa yang benar”. Bukan lagi mencari makna, tapi menjaga barisan.
Pelurusan pentingnya di sini sederhana:
tidak ada pemikiran manusia yang bebas bias. Yang membedakan adalah apakah bias itu disadari atau disembunyikan di balik klaim mutlak. Ilmu pengetahuan mengakui bias dan membangun mekanisme koreksi. Agama, dalam bentuk terbaiknya, mengajarkan kerendahan hati dan akhlak. Budaya lokal pun penuh kearifan tentang hidup berdampingan dengan perbedaan. Tapi semua itu runtuh ketika seseorang mengubah keyakinan menjadi senjata identitas.
Kesimpulannya mungkin tidak memuaskan bagi mereka yang suka kepastian keras:
pemikiran yang sehat bukan yang paling yakin, tapi yang paling siap dikoreksi.
Dan orang yang benar-benar tenang dengan keyakinannya tidak sibuk mencari musuh, karena ia masih sibuk mengurus dirinya sendiri.
Sisanya—yang ribut, yang teriak, yang butuh lawan terus-menerus—biasanya bukan sedang membela kebenaran. Mereka sedang menjaga ilusi bahwa dirinya sudah sampai.
0 komentar