Maaf Pak, Fitur Ramahnya Aktif Setelah Bayar

by - 6:00 AM

Saya punya toko online. Kecil, rapi, dan cukup sopan untuk tidak banyak menuntut dunia. Suatu hari, kami berhenti pasang iklan. Bukan karena bangkrut—lebih ke ingin tahu: seberapa jujur sih sistem ini kalau dibiarkan alami?

Hasilnya lumayan. Trafik tetap jalan, organik, seperti sayur kampung yang tumbuh tanpa pupuk kimia.

Masalah mulai muncul ketika ada kendala. Chat ke AM. Sunyi.
Follow up. Sunyi.
Saya sempat berpikir, “Oh, mungkin orangnya sibuk. Atau cuti. Atau sedang bertapa.”

Lalu kami pasang iklan lagi.

Ajaib.
AM yang sama tiba-tiba berubah jadi makhluk profesional dengan respons cepat, kalimat rapi, dan nada yang hangat.
“Siap dibantu, Pak.”
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”
“Terima kasih sudah menghubungi kami.”

Saya dan istri saling pandang.
Lalu tertawa.

“Oh… jadi selama ini kita bukan nggak penting,” kata istri saya,
“kita cuma nggak bayar.”

Ternyata keramahan itu fitur premium.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada satu hal lain yang lebih klasik: layanan kesehatan.
BPJS. Ruangan panas, AC seperti mitos, suasana gaduh, dan ekspresi petugas yang seolah berkata, ‘hidup memang keras, Mas’.
Lalu suatu hari kami berobat dengan dana pribadi.

Astaga.

Parkiran dibukakan.
Satpam senyum duluan.
Anak saya bahkan belum turun dari mobil, pintu sudah dibukakan seperti dia calon direktur utama masa depan.

Saya hampir refleks bertanya,
“Mas, saya salah rumah sakit apa gimana?”

Ternyata tidak.
Ini rumah sakit yang sama.
Yang beda cuma metode pembayaran.

Saya dan istri tertawa lagi. Bukan karena lucu—tapi karena absurdnya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Di titik itu saya sadar:
di banyak tempat, martabat manusia bukan soal siapa kamu,
tapi berapa besar yang kamu setorkan.

Kalau kamu organik, sabar.
Kalau kamu pasang iklan, silakan duduk di sofa empuk.
Kalau kamu BPJS, antre.
Kalau kamu bayar pribadi, silakan lewat pintu kaca otomatis—yang entah kenapa baru terbuka kalau saldo mencukupi.

Kami tidak marah.
Kami tidak mengutuk sistem.
Kami hanya tertawa, karena rasanya seperti sedang nonton komedi yang terlalu jujur.

Dan di tengah tawa itu, saya belajar satu hal penting:
bukan dunia yang berubah,
tapi perlakuannya—tergantung apakah kita datang sebagai manusia…
atau sebagai anggaran.

You May Also Like

0 komentar