Jastip: Dulu Titip Cabe, Sekarang Titip Gengsi
Saya ini mantan anak kampung.
Di kampung, kata titip itu sakral tapi sederhana.
“Titip cabe ya, aku ke pasar.”
Selesai.
Tidak ada fee.
Tidak ada screenshot.
Tidak ada story bertuliskan open jastip hari ini, kuota terbatas.
Kalau lupa beli? Paling dapat omelan sambil ketawa. Hidup tetap jalan.
Titip itu urusan kepercayaan dan kebiasaan.
Capek sedikit? Ya namanya juga hidup.
Lalu saya pindah ke kota.
Dan kata titip naik kasta.
Sekarang titip bukan lagi soal tolong-menolong, tapi model bisnis.
Titip beli tas → ada fee.
Titip beli makanan viral → ada fee + drama.
Titip beli barang luar negeri → ada fee, pajak, disclaimer, dan sumpah serapah ke Bea Cukai.
Belum lengkap kalau tidak ada ritual suci bernama unboxing.
Saya bengong.
Loh… ini kan cuma lewat doang?
Capek dikit kok dibayar?
Kota menepuk pundak saya sambil tersenyum profesional:
“Ini bukan capek, ini branding.”
Di kampung, orang ke pasar bawa tas belanja.
Di kota, orang ke luar negeri bawa nilai jual.
Yang dititip bukan lagi barang, tapi gengsi.
“Tas ini aku jastipin langsung dari luar negeri loh.”
Seakan-akan tasnya ikut boarding, duduk dekat jendela, dan dapat cap paspor.
Saya baru paham, di kota:
- Jalan dikit bisa jadi jasa
- Lewat sebentar bisa jadi cuan
- Tolong-menolong bisa di-pricing
Dan anehnya, semua sepakat.
Yang nitip merasa terbantu.
Yang dititipi merasa pantas dibayar.
Yang nonton di story merasa hidupnya kurang jauh-jauh.
Saya tidak bilang ini salah.
Saya cuma kaget.
Dulu, titip cabe itu tanda keakraban.
Sekarang, jastip adalah tanda kelas sosial dan koneksi.
Di kampung, kalau kamu dititipi, artinya dipercaya.
Di kota, kalau kamu buka jastip, artinya kamu punya pasar.
Akhirnya saya berdamai.
Saya ikut titip.
Saya ikut bayar.
Tapi di dalam hati, mantan anak kampung ini masih suka senyum sendiri:
Capek dikit kok jadi profesi.
Tapi ya sudahlah.
Namanya juga kota.
Bahkan cape pun harus produktif.
0 komentar