Puasa yang Sunyi, Lebaran yang Riuh

by - 12:00 PM

 


(Seri Keenam)

Puasa itu sepi.
Sepi yang tidak minta ditemani.
Sepi yang tidak perlu disiarkan.

Ia hadir pelan-pelan,
di jam-jam rawan emosi,
di kepala yang biasanya ribut tapi tiba-tiba capek sendiri.

Saat puasa, hidup mengecil.
Jadwal makan dipotong.
Ego dikurangi.
Komentar ditahan di ujung lidah.

Kita jadi manusia versi low profile.
Tidak banyak bicara.
Tidak banyak reaksi.
Bahkan marah pun rasanya mahal, sayang kalau dipakai.

Puasa itu sunyi,
karena ia bekerja di dalam.

Lalu datang Lebaran.
Dan sunyi itu… kalah suara.

Takbir bersahutan.
Notifikasi berdenting.
Grup keluarga hidup lagi seperti pasar subuh.

Yang sebulan menahan,
mendadak dilepas bersamaan.

Bukan cuma ketupat dan opor,
tapi juga cerita,
status,
dan foto dengan caption yang sudah disiapkan sejak H-7.

Lebaran itu riuh.
Riuh yang kadang lupa asalnya.

Orang yang kemarin berkata “yang penting ikhlas”,
hari ini sibuk memastikan keikhlasan itu terlihat pantas difoto.

Orang yang bilang “hidup sederhana”,
mendadak ingin sederhana yang proper.

Riuh ini tidak salah.
Ia manusiawi.
Manusia memang makhluk sosial,
dan Lebaran memang ruang temu.

Yang lucu adalah kontrasnya.

Puasa mengajarkan kita duduk tenang dengan diri sendiri.
Lebaran menguji:
apakah kita masih bisa tenang saat semua orang melihat?

Apakah sunyi itu benar-benar meresap,
atau cuma jeda sebelum kembali ribut?

Yang selesai dengan puasanya,
tidak terganggu oleh riuh.

Ia ikut tertawa,
ikut salaman,
ikut makan—
tanpa perlu mengeraskan apa-apa.

Riuh lewat di luar,
sunyi tetap tinggal di dalam.

Dan mungkin itu tanda kecil keberhasilan.

Bukan ketika Lebaran terasa meriah,
tapi ketika setelah semua tamu pulang,
rumah kembali hening,
dan batin kita… tidak panik.

Puasa yang sunyi tidak hilang karena Lebaran yang riuh.
Ia hanya diuji.

Dan yang lulus,
tidak perlu bilang siapa-siapa.

You May Also Like

0 komentar