Motor yang Terlalu Banyak Dipikirkan Biasanya Cepat Sakit

by - 6:00 AM


Saya punya hubungan yang sangat biasa dengan kendaraan. Terlalu biasa, bahkan mungkin membosankan bagi sebagian orang. Motor dan mobil saya sejak dibeli sampai hari ini bentuknya kurang lebih sama seperti keluar dari pabrik. Tidak saya sentuh. Tidak saya orek. Tidak saya jadikan medium aktualisasi diri. Baret? Ada. Lecet? Ada. Itu bonus dari emak-emak sein kiri belok kanan dan takdir jalanan. Tapi anehnya, kendaraan saya tidak pernah rewel. Ia hidup tenang. Saya pun demikian.

Prinsip saya sederhana: biarkan kendaraan menjadi dirinya sendiri. Saya pakai dengan wajar, tidak ugal-ugalan, tidak sok jago. Ganti oli tepat waktu. Selesai. Selebihnya, saya percaya pada insinyur yang dibayar mahal untuk memikirkan hal-hal yang tidak sanggup saya pikirkan sambil ngopi. Mereka belajar aerodinamika, keseimbangan rangka, sistem yang saling menopang. Saya? Belajar nyetir yang benar saja ngos-ngosan.

Di sisi lain, saya sering melihat manusia yang tangannya tidak bisa diam. Motor lagi parkir manis, dibongkar. Ini dipotong, itu diganti. Baut diganti warna. Ban diperkecil sampai rasanya motor itu kalau masuk got bisa nyangkut selamanya. Katanya demi gaya. Katanya demi performa. Tapi aneh, belum setahun, motornya mulai ringkih. Getarannya beda. Bunyi-bunyinya lebih banyak dari isi kepala pemiliknya.

Saya bukan anti modifikasi. Sama sekali tidak. Saya hanya heran dengan satu pola: motor yang terlalu sering “dipikirkan”, biasanya cepat sakit. Ada orang yang merasa lebih pintar dari pabrik. Merasa ada bagian yang “tidak perlu”. Dipotong. Dibuang. Padahal mungkin justru bagian itu yang membuat motor tetap utuh saat dipakai harian. Insinyur pabrik bukan tukang tambal ban pinggir jalan yang kerja sambil ngopi dan merokok. Mereka menghitung, bukan mengira-ngira.

Saya juga jujur pada diri sendiri. Pertama, saya sayang uang. Kedua, saya tidak mau kendaraan saya bermasalah karena tangan saya sendiri. Kalau rusak karena usia atau jalanan, saya bisa terima. Tapi kalau rusak karena ego? Itu bentuk kebodohan yang mahal.

Lama-lama saya sadar, ini bukan cuma soal kendaraan. Ini soal manusia. Ada manusia yang seperti kendaraan bawaan pabrik: dipakai wajar, dirawat seperlunya, dan hidupnya relatif stabil. Ada juga manusia yang terlalu banyak dimodifikasi oleh egonya sendiri. Potong sana, tambah sini. Kurangi prinsip, tambahi pencitraan. Awalnya terlihat keren. Tapi pelan-pelan, rangkanya tidak kuat menahan dirinya sendiri.

Saya memilih menjadi pengendara biasa. Tidak istimewa. Tidak mencolok. Tapi sampai tujuan dengan selamat. Kendaraan saya tidak perlu terlihat “jadi siapa”. Ia cukup berfungsi. Sama seperti hidup, ternyata.

Dan sejauh ini, baik motor maupun saya, sama-sama tidak rewel.

You May Also Like

0 komentar