Seri Orang Tua Bingung Tapi Waras – Episode 2:
Kami Tidak Tahu Anak Ini Akan Jadi Apa, dan Itu Masalahnya**
Dulu saya kira menjadi orang tua itu soal tahu arah.
Sekarang saya sadar, justru yang paling jujur adalah: tidak tahu.
Tidak tahu anak ini nanti jadi apa.
Tidak tahu apakah keputusan hari ini akan dipuji atau disesali sepuluh tahun ke depan.
Tidak tahu apakah cara mendidik yang kita anggap “waras” hari ini, besok akan disebut “kurang tegas” oleh netizen generasi baru.
Dan anehnya, ketidaktahuan ini justru membuat kami lebih sadar.
Kami sering ditanya,
“Anaknya nanti mau jadi apa?”
Saya pengin jawab jujur:
“Entah. Dan itu bukan kegagalan.”
Tapi dunia tidak terlalu ramah pada jawaban semacam itu. Dunia suka orang tua yang terlihat punya peta besar, target jelas, dan kalimat sakti seperti ‘pokoknya nanti dia harus…’
Padahal dalam praktiknya, banyak orang tua hanya menebak sambil berharap.
Kami memilih jalur yang tidak terlalu heroik: menemani.
Kadang salah.
Kadang capek.
Kadang pengin menyerah dan bilang, “yaudah lah, terserah sistem aja.”
Tapi setiap kali muncul pikiran itu, ada suara kecil yang nyeletuk:
“Kalau kamu juga menyerah, siapa yang tersisa?”
Menemani anak tumbuh itu melelahkan bukan karena anaknya, tapi karena kita dipaksa bercermin. Kita melihat ulang luka lama, pola asuh yang dulu kita terima, dan janji-janji diam yang dulu kita buat: ‘nanti kalau punya anak, saya nggak mau begini.’
Lucunya, beberapa janji itu pelan-pelan kita langgar sendiri.
Kami bukan orang tua ideal.
Kami kadang terlalu santai.
Kadang terlalu cerewet.
Kadang menertawakan hal yang seharusnya mungkin dibikin serius.
Tapi kami sepakat satu hal:
kami ingin anak ini tumbuh dengan kesadaran, bukan kepatuhan kosong.
Kalau ia patuh karena takut, kami gagal.
Kalau ia baik karena ingin, itu bonus.
Kami tidak menyiapkan anak untuk terlihat sukses di depan orang.
Kami menyiapkan anak untuk hidup bersama dirinya sendiri, tanpa harus lari dari rasa bersalah atau pura-pura kuat.
Mungkin ini terdengar idealis.
Mungkin juga terdengar sok waras.
Tidak apa-apa.
Karena di antara semua teori parenting, kami menemukan satu kesimpulan paling membumi:
orang tua tidak butuh terlihat pintar,
cukup hadir dan mau belajar ulang.
Dan kalau suatu hari anak ini tumbuh jadi manusia biasa—
tidak viral, tidak luar biasa, tidak membanggakan di grup keluarga—
kami akan tetap bilang:
“Ya sudah. Yang penting dia hidup, sadar, dan tidak membenci hidupnya sendiri.”
Bagi kami, itu sudah cukup revolusioner.
0 komentar