Surga Katanya Jauh, Padahal Selokan Depan Mushola Aja Masih Bau
Saya pernah tertawa kecil—bukan mengejek, lebih ke bingung—saat guru ngaji menjelaskan konsep surga. Gambarnya indah: alam subur, makanan melimpah, tidak ada iri dengki, semua hidup rukun. Versi utopis yang kalau divisualkan, seperti brosur perumahan syariah edisi akhirat.
Masalahnya, saya orang Sunda.
Dan dalam kepala kecil saya waktu itu, gambaran surga tersebut terasa… terlalu akrab.
Di kampung, makanan tinggal ambil dari alam. Pisang ada, singkong ada, daun-daunan juga. Kalau satu keluarga masak banyak, ya dibagi. Ribut antar warga? Ada. Tapi biasanya sebentar. Besoknya ketemu lagi, ketawa lagi. Silih asah, silih asih, silih asuh—itu bukan jargon, tapi kebiasaan harian. Bahkan konflik anak muda pun seringnya cuma rebutan pacar. Fase tumbuh, kata orang tua.
Jadi refleks saya nyeletuk ke guru ngaji, dengan nada polos tapi usil,
“Pak, kalau kondisinya begitu, bukannya kita ini sudah hidup mirip konsep surga?”
Beliau diam sebentar. Lalu senyum kecut.
“Kamu itu mikirnya aneh. Ini lagi ngomongin surga.”
Saya manggut-manggut, tapi kepala saya terus jalan.
Kalau surga digambarkan sebagai tempat alam dan manusia saling bersinergi, kenapa kita tidak mulai dari sini saja? Dari kampung sendiri. Dari lereng gunung yang mulai gundul. Dari sungai yang keruh karena limbah. Dari sawah yang terlalu akrab dengan pestisida.
Ironisnya, orang kota datang jauh-jauh ke kampung buat “healing”, foto-foto vegetasi, hirup udara segar. Eh, mata air malah dijadiin objek wisata dadakan. Beton, tiket, parkiran. Seolah surga itu harus dimonetisasi dulu biar sah.
Yang paling bikin saya tertawa pahit, selokan depan tempat ngaji sendiri tersumbat. Bau. Airnya hitam. Saya bersihkan. Bukannya dibantu, malah diketawain.
“Kok repot amat sih?”
Saya jawab sambil nyengir,
“Katanya pengen surga. Masa jaga selokan depan mushola aja nggak bisa. Ini selokan udah kayak neraka kecil.”
Mereka ketawa. Saya ikut ketawa. Tidak marah. Mungkin ini fase. Mungkin saya yang terlalu cepat sadar, atau mereka yang belum kepikiran ke sana. Tidak ada yang salah, cuma beda tempo.
Sejak itu saya paham, konsep surga sering kali dibuat terlalu jauh. Terlalu tinggi. Terlalu metafisik. Sampai lupa bahwa latihan paling dasar menuju “tempat bersih” itu ya… membersihkan.
Menjaga air. Menjaga tanah. Menjaga relasi. Menjaga hal-hal sepele yang kalau dibiarkan, pelan-pelan jadi neraka kecil harian.
Makanya saya pernah bertanya, setengah bercanda setengah serius,
“Bu, di surga bisa maling mangga nggak?”
Karena kalau di dunia saja, mangga tetangga masih dipetik diam-diam, sungai masih dijadikan tempat buang dosa kolektif, dan selokan bau dianggap biasa—mungkin surga memang terasa jauh.
Bukan karena lokasinya di langit,
tapi karena kita terlalu sibuk membayangkannya,
sampai lupa merawat halaman sendiri.
0 komentar