Kenapa Dulu Dipukul Tetap Ngaji, Sekarang Dipeluk Malah Lancar?
Saya baru sadar belakangan: metode ngaji saya dulu itu sistem eja.
Ba–ta–tsa.
Alif dibaca A.
Kho ya kho—kalau meleset sedikit, konsekuensinya bukan pengulangan, tapi pengulangan dengan efek samping.
Baru sekarang saya tahu namanya: Al-Baghdadi.
Dulu saya tahunya cuma satu: salah baca, kena.
Anak saya sekarang ngaji Qiroati. Metodenya tegas sejak awal.
Kho harus kho.
Ha jangan ketukar.
Tidak semua kesalahan diberi paraf. Tidak semua lembar bisa langsung naik jilid.
Anak saya sering menangis.
Bukan karena gurunya galak.
Tapi karena ia merasa sudah berusaha.
Dan di situ saya berdiri.
Bukan sebagai pengawas.
Bukan sebagai korektor makhraj.
Tapi sebagai ayah yang berkata pelan:
“Kamu sudah ngaji. Ayah senang.
Bu guru nggak marah kan?
Cuma belum diparaf dan belum ganti lembar, ya?”
Ia mengangguk.
Tersenyum.
Dan saya tahu: yang ia butuhkan bukan kelonggaran aturan, tapi tempat aman setelah aturan.
Beberapa waktu kemudian, ia ikut ujian imtihan Qiroati.
Usianya tujuh tahun.
Sendirian di antara remaja belasan.
Saya tersenyum, bukan karena bangga berlebihan.
Tapi karena ingat diri saya sendiri dulu—
anak kecil yang salah mengucap kho, dipukul.
Pulang ke rumah mau mengadu, malah ditambahin.
Anehnya, saya tetap ngaji.
Tetap sekolah.
Tetap datang ke tempat-tempat yang membuat saya takut.
Sekarang kalau melamun, saya sering bertanya dalam hati: “Kenapa dulu gue nggak kabur, ya?”
Jawabannya sederhana dan menyedihkan sekaligus: karena saya cuma punya satu tujuan—pengen pintar.
Titik.
Bukan karena nyaman.
Bukan karena aman.
Tapi karena itu satu-satunya pintu yang saya tahu.
Saya berangkat sekolah sering dititipi surat izin palsu oleh teman.
Mereka nongkrong di warung.
Saya tetap masuk kelas.
Saat pulang, mereka ikut pulang.
Saya tidak menegur.
Tidak menggurui.
Karena tujuan saya bukan menyelamatkan mereka—
tujuan saya menyelamatkan diri saya sendiri.
Sekarang, mereka banyak yang lebih kaya.
Modal mereka lebih panjang.
Angka nol di belakangnya lebih ramah.
Saya tidak iri.
Tidak benci.
Untuk membesarkan tiga anak sampai kuliah, hidup saya cukup.
Dan mungkin di situlah garis bedanya.
Dulu saya bertahan karena takut kehilangan satu-satunya jalan.
Sekarang anak saya bertumbuh karena tahu jalannya aman.
Saya tidak ingin anak saya kuat karena kebal.
Saya ingin ia kuat karena tidak perlu kebal.
Dan mungkin itu bedanya generasi yang dipukul agar patuh
dengan generasi yang dipeluk agar berani.
Kalau mau jujur,
saya tidak sedang mengubah metode ngaji.
Saya hanya memutus satu hal:
ngaji tidak perlu disertai rasa takut agar sampai.
Dan ternyata,
sampainya malah lebih jauh.
0 komentar