Hal Remeh Kalau Viral Bisa Jadi Karier

by - 12:00 PM

Saya ini mantan anak kampung.

Di kampung, hal remeh itu ya… remeh.
Tidak ada masa depan. Tidak ada potensi. Tidak ada sponsor.

Bangun siang?
Dimarahi.
Dicap pemalas.

Salah masak?
Diejek.
“Nasi kok kaya bubur?”

Ngomel dikit?
Dibilang cerewet.
“Banyak gaya, kerja kagak.”

Semua selesai di dapur.
Tidak ada arsip. Tidak ada dokumentasi.
Paling mentok jadi bahan gosip tetangga.

Lalu saya pindah ke kota.
Dan saya kaget lagi.

Bangun siang di kota?
Bukan masalah.
Itu konten.

Judulnya: “Morning Routine Versi Aku yang Realistis.”
Padahal bangunnya jam 11.

Salah masak?
Bukan aib.
Itu honest cooking.

Api kegedean?
Konten.
Masakan gosong?
Konten.
Komentar netizen nyinyir?
Bonus engagement.

Ngomel?
Wah ini emas.

Kalau di kampung, ngomel bikin dijauhi.
Di kota, ngomel bikin podcast.

Dikasih mic, lighting, dan kopi susu.
Lalu jadilah diskusi serius:
“Kenapa manusia modern mudah lelah padahal rebahan?”

Saya terdiam.
Merenung.
Menggaruk kepala yang dulu sering dimarahi ibu.

Anak kampung baru paham satu hal penting:
Ternyata bukan salahnya hal remeh.
Salahnya dulu tidak direkam.

Di kota, kamera adalah pengampunan.
Apa pun yang direkam, sah.
Apa pun yang viral, valid.

Hal remeh naik derajat.
Rutinitas jadi narasi.
Kesalahan jadi kejujuran.
Kemalasan jadi self-care.

Di kampung, hidup itu dijalani.
Di kota, hidup itu dipresentasikan.

Bahkan kegagalan pun bisa naik kelas.
Asal diberi caption yang reflektif dan lagu mellow.

Saya tidak iri.
Saya cuma kagum.

Dulu, orang sukses karena rajin.
Sekarang, orang sukses karena konsisten upload.

Dan saya akhirnya paham:
Di kota, bukan siapa yang paling hebat yang menang.
Tapi siapa yang paling cepat bilang,
“Eh, ini bisa jadi konten.”



You May Also Like

0 komentar