Catatan Puasa Orang Dewasa: Ramadan Selesai, Etalase Dibuka
(Seri Ketiga)
Ada satu momen sakral yang jarang dibahas dalam kitab apa pun:
hari ketika Ramadan selesai dan etalase hidup dibuka.
Puasa berakhir, bukan cuma dapur yang kembali aktif,
tapi juga etalase batin, etalase sosial, etalase pencitraan.
Sebulan penuh kita latihan menutup.
Menutup mulut.
Menutup emosi.
Menutup keinginan tampil benar.
Lalu Lebaran datang, dan tanpa komando resmi,
tirai dibuka serentak.
Orang dewasa itu unik.
Kami tidak lagi pamer mainan seperti anak kecil,
kami pamer hasil hidup.
Yang dipajang bukan lagi “aku siapa”,
tapi “aku jadi apa”.
Rumah dibuka.
Meja dibuka.
Topik sensitif ikut dibuka.
“Sekarang kerja di mana?”
“Anaknya sudah berapa?”
“Rumah masih ngontrak atau sudah kredit?”
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak jahat.
Ia hanya terlalu jujur sebagai etalase.
Ramadan sebenarnya baru saja melatih kita satu hal penting:
tidak semua hal harus ditunjukkan.
Tapi orang dewasa kadang lupa.
Karena hidup kami memang sudah lama berubah jadi ruang pamer berjalan.
Puasa mengajari menahan lapar.
Lebaran sering menguji kemampuan menahan cerita.
Ada yang puasanya penuh air mata,
tapi Lebarannya penuh senyum yang dipaksakan.
Ada yang puasanya biasa saja,
tapi Lebarannya terlihat paling “berhasil”.
Di situlah saya sadar:
orang dewasa itu bukan tidak capek,
kami hanya sudah ahli menyamarkannya.
Etalase dibuka bukan karena ingin sombong,
tapi karena kami ingin diyakinkan:
“hidup saya tidak salah arah, kan?”
Dan Lebaran menyediakan panggung yang sangat ramah untuk itu.
Padahal puasa tadi jelas-jelas mengajarkan:
nilai manusia tidak diukur dari apa yang terlihat.
Tapi dari apa yang sanggup ditahan.
Sayangnya, setelah kenyang,
daya tahan sering ikut melemah.
Bukan berarti membuka etalase itu dosa.
Yang melelahkan adalah ketika kita lupa menutupnya kembali.
Karena hidup bukan mal.
Tidak semua orang harus tahu stok kita apa,
harga kita berapa,
dan diskon apa yang sedang kita jalani.
Catatan kecil saya sebagai orang dewasa yang sudah sering keliru:
kalau Ramadan melatih menutup,
maka Lebaran seharusnya melatih memilih
apa yang layak dibuka,
dan apa yang cukup disimpan.
Tidak semua yang berhasil harus diumumkan.
Tidak semua yang bahagia harus dipamerkan.
Dan tidak semua yang diam berarti tertinggal.
Ramadan selesai.
Etalase memang terbuka.
Tapi semoga kita tidak lupa satu hal penting:
yang paling berharga dari puasa
justru tidak pernah dipajang.
0 komentar