Semua Orang Punya Ilmu Rawa Rontek, Cuma Versinya Beda-Beda

by - 12:00 AM


Saya tumbuh di lingkungan yang akrab dengan cerita-cerita ilmu kebal. Dari yang katanya kebal bacok, kebal peluru, sampai yang tidak bisa mati walau kepalanya dipisah dari badan. Salah satu yang paling legendaris tentu Ilmu Rawa Rontek. Ilmu dari tanah Sunda, dari wilayah Cirebon, yang konon membuat pemiliknya susah mati. Bukan sekadar kuat, tapi bandel secara kosmis.

Versi ceritanya selalu megah. Ada yang bilang makhluk gaibnya numpang di aura, bikin badan tahan pukul. Ada yang naik level, makhluknya nempel di kulit, kulit jadi keras bak batu karang. Level dewa-dewanya, makhluk itu merasuk sampai ke sel tubuh, bikin regenerasi cepat, umur panjang, dan tenaga dalam seperti mesin diesel tua: berisik tapi susah mati.

Tentu saja setiap kesaktian selalu dibarengi syarat yang absurd. Tidak boleh menikah seumur hidup. Kalau mau diwariskan, harus buru-buru sebelum mati. Dan penutupnya selalu horor: setelah wafat, tubuh menyusut, mengering, jadi semacam jenglot edisi deluxe. Lengkap. Mistis. Menjual.

Secara antropologi, ini masuk akal. Setiap kebudayaan punya cara sendiri untuk menjelaskan ketahanan hidup, rasa takut mati, dan obsesi manusia terhadap keabadian. Orang Sunda membungkusnya dengan cerita rawa, makhluk halus, dan pantangan. Orang lain mungkin membungkusnya dengan istilah yang lebih modern dan mahal.

Tapi makin ke sini, saya justru tertarik melihat Rawa Rontek versi lain. Versi yang tidak perlu puasa mutih, tidak perlu jimat, dan tidak perlu makhluk gaib nempel di kulit. Versi yang bekerja diam-diam, tanpa asap kemenyan.

Kematian biologis itu pasti. Tidak ada ilmu yang benar-benar bisa menolak liang lahat. Tapi ada satu hal yang sering lolos dari obrolan soal mati: pemikiran. Ada orang yang tubuhnya sudah lama dikubur, tapi cara berpikirnya masih hidup, dipakai, diperdebatkan, bahkan diwariskan. Ada juga yang masih hidup sehat, tapi pikirannya sudah mati, basi, dan ditinggalkan.

Di titik itu saya mulai ketawa sendiri.

Jangan-jangan, Ilmu Rawa Rontek paling canggih bukan soal kebal bacok, tapi soal kebal dilupakan. Selama pemikiran seseorang masih relevan, masih dipakai orang lain untuk memahami hidup, ia belum benar-benar mati. Ia hanya pindah bentuk. Dari badan ke ingatan. Dari daging ke wacana.

Dan lucunya, ilmu ini tidak eksklusif. Tidak perlu tirakat. Tidak ada syarat tidak menikah. Tidak ada kutukan jadi jenglot. Setiap orang punya potensi memilikinya. Guru yang kalimatnya terus diingat muridnya. Ibu yang nasihatnya masih dipakai anaknya puluhan tahun kemudian. Penulis yang tulisannya masih dikutip orang asing yang tidak pernah ia kenal.

Kalau mau jujur, sebagian dari kita sudah mengamalkan Rawa Rontek versi pemikiran, tanpa sadar. Kita hidup, berpikir, lalu meninggalkan jejak. Soal jejak itu mau bertahan lama atau cepat hilang, itu urusan lain.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Ilmu Rawa Rontek itu nyata atau tidak?”
Saya mungkin akan menjawab santai:

Nyata.
Tapi sekarang bentuknya bukan kebal senjata.
Melainkan kebal dilupakan.

You May Also Like

0 komentar