Manusia Itu Bukan Error, Cuma Lagi Loading
Belakangan saya merasa hidup jadi lebih ringan sejak mengenal satu kata sederhana: fase. Bukan dalih, bukan pembenaran, hanya penamaan. Dan anehnya, dengan memberi nama, saya jadi tidak reaktif. Tidak semua hal harus ditanggapi seperti alarm kebakaran.
Anak manja? Fase. Anak yang mulai belajar mandiri lalu sok paling bisa? Fase. Remaja yang bingung, lalu cari katup pelepas entah lewat musik keras, circle absurd, atau gaya hidup setengah filosof setengah ngawur? Fase. Orang dewasa yang masih agresif, gampang tersinggung, atau sebaliknya dingin seperti freezer minimarket? Fase juga. Tingkat pertumbuhan. Tidak permanen, kecuali dipelihara dengan penuh cinta dan ego.
Yang sering luput justru fase pasangan. Ada PMS yang datang tanpa undangan tapi minta dilayani seperti tamu kehormatan. Ada fase awal hamil yang emosinya seperti cuaca di gunung: pagi cerah, siang badai, sore jadi dewi kebajikan, malam minta maaf sambil nangis. Kalau semua itu ditanggapi serius dan personal, tamatlah sudah kewarasan. Padahal sering kali, itu bukan tentang kita. Itu tentang hormon yang sedang rapat pleno tanpa notulen.
Saya sendiri tentu tidak bebas fase. Ada hari saya cair, mudah tertawa, mudah memaafkan. Ada hari saya beku, dingin, ingin semua orang diam dan dunia pause sebentar. Pola saya belakangan cukup konsisten: dipikirkan, diragukan, diendapkan, lalu—kalau beruntung—ditertawakan. Tapi bahkan itu pun fase. Ada hal yang bisa langsung saya tertawakan. Ada yang harus mengendap lama seperti kopi tubruk. Ada juga yang kepikiran setengah mati, muter di kepala, baru sadar belakangan: oh, ini cuma fase juga.
Satirnya, kita sering mengira fase sebagai watak permanen. Anak dibilang “dasar bandel”. Pasangan dicap “emosian”. Diri sendiri dilabeli “gue emang begini orangnya”. Padahal bisa jadi semua itu cuma sistem operasi yang lagi update di background. Tapi kita sudah keburu marah karena loading bar-nya lama.
Sejak itu saya belajar satu hal nakal tapi menenangkan: tidak semua perilaku butuh respon. Sebagian hanya butuh waktu. Seperti hujan, seperti demam, seperti suasana hati. Kalau dipaksa berhenti, malah makin lama.
Jadi kalau hari ini saya atau orang di sekitar saya agak aneh, agak cair, agak beku, agak lebay, saya coba tarik napas dan bilang dalam hati: santai, ini bukan kerusakan permanen. Ini manusia. Lagi fase.
0 komentar