Wajah, Daun, dan Keyakinan Bahwa Anti Aging Itu Tidak Dijual per Botol

by - 6:00 PM


Saya sering terpesona pada wajah manusia.
Serius.
Baik wajah pria maupun wanita.
Bukan karena cantik atau ganteng semata, tapi karena wajah itu arsip hidup yang paling jujur.

Kadang saya menatap wajah orang, lalu berpikir:
Oh, ini wajah yang sering kurang tidur.
Oh, ini wajah yang kebanyakan mikir.
Oh, ini wajah yang rajin berdamai.
Dan ada juga wajah yang jelas-jelas hasil negosiasi panjang dengan skincare, ring light, dan niat hidup yang belum tentu tenang.

Saya kagum. Bukan iri. Bukan sinis.
Kagum seperti orang yang berdiri di depan etalase toko:
melihat, mengangguk, lalu pulang tanpa beli apa-apa.

Saya ini orang organik.
Bukan organik versi mahal di supermarket elit.
Organik versi lalapan, daun singkong, timun, sambal, dan air putih.
Versi kambing yang kebetulan bisa mikir.

Sebagian orang mengira hidup organik itu mahal.
Saya malah heran:
yang mahal itu justru hidup ribet.

Kalau pola hidup dijalani sehat—
makan wajar, tidur cukup, ketawa sering, marah seperlunya—
rasanya wajah itu auto anti aging.
Bukan karena kinclong, tapi karena nggak banyak konflik internal.

Saya pernah melihat video: before make up – on make up – after make up.

Saya tidak sinis.
Saya cuma tertawa kecil dan berpikir:

“Oh manusia… di belahan dunia manapun, tanpa dandan ya tetap manusia.”

Ada jerawat.
Ada breakout.
Ada bekas luka.
Ada sisa dicakar kucing.

Lalu setelah make up: pipinya haluuuus…
seperti pipi bayi.

Masalahnya satu:
itu bayi bukan hak saya 😅
Kalau saya pegang, make up luntur.
Kalau make up luntur, saya ditatap tajam.
Kalau ditatap tajam, bisa berujung ditonjok suaminya.

Jadi saya cukup kagum dari jauh. Aman.

Lucunya, sekarang pria juga ikut merawat wajah.
Saya bukan menghakimi, saya cuma kaget tulus:

“Njir… cowok juga ada make up ya?”

Kata istri saya:

“Biar kulitnya halus.”

Saya jawab refleks:

“Coba pegang kulit saya.”

Dia pegang, lalu bilang:

“Ini kulit herbivora.”

Dan saya sadar, mungkin benar.
Kulit saya bukan hasil serum.
Tapi hasil hidup yang nggak terlalu ambisius jadi sempurna.

Tidak glowing.
Tidak flawless.
Tapi jarang breakout.
Paling kerutan—itu pun sisa mikir, bukan sisa iri.

Saya tidak menertawakan orang yang pakai skincare.
Saya juga tidak merasa lebih suci karena makan daun.
Saya hanya heran betapa manusia sering mencari anti aging di luar,
padahal yang bikin wajah awet itu seringnya batin yang nggak bocor ke mana-mana.

Wajah itu jujur.
Dia merekam cara kita makan.
Cara kita marah.
Cara kita berdamai.
Cara kita tidur.
Cara kita menerima bahwa tidak semua harus ditutup foundation.

Jadi kalau saya terlihat kagum pada wajah manusia—
itu bukan karena cantik atau gantengnya.
Tapi karena setiap wajah berkata pelan:

“Beginilah hidupku sejauh ini.”

Dan saya, si kambing organik ini,
cukup manggut-manggut sambil makan lalapan,
bersyukur wajah saya tidak muda,
tapi tidak sedang berperang 😄



You May Also Like

0 komentar