Masuk Pesantren Biar Tenang… Tenang Siapa, Ya?
Ada satu kalimat yang sering mampir ke telinga orang tua, biasanya diucapkan dengan nada lega, seperti baru menemukan tombol mute kehidupan:
“Masukin aja anak ke pesantren, biar tenang.”
Tenang di sini menarik.
Tenang batin, katanya.
Tenang urusan duniawi, tentu saja.
Dan—kalau mau jujur—tenang karena tidak perlu repot mendampingi perkembangan anak setiap hari.
Saya paham logika itu. Saya tumbuh di pesantren. Dengan peraturan ketat, jadwal padat, dan sistem yang rapi. Bangun, makan, belajar, ibadah, tidur—semuanya sudah diatur. Hidup seperti jam dinding yang jarang telat, kecuali kalau baterainya soak.
Dan benar, banyak hal baik lahir dari sana. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan:
tidak semua yang keluar dari pesantren otomatis menjadi “baik” seperti brosur pendaftarannya.
Ada yang pulang jadi alim.
Ada yang pulang jadi biasa saja.
Ada juga yang pulang dan memilih jadi berandalan, hanya dengan kosa kata Arab yang lebih kaya.
Saya sendiri memilih menjadi “baik” versi saya. Bukan karena pesantren, tapi karena saya ingin. Bukan untuk menunjukkan ke dunia bahwa saya lulusan pesantren. Bukan juga karena takut ditegur ustaz. Tapi karena, entah bagaimana, kesadaran itu tumbuh pelan-pelan. Tidak seragam. Tidak bisa dipaksakan.
Itu sebabnya saya memilih tidak memasukkan anak saya ke pesantren.
Bukan karena saya anti pesantren.
Bukan karena saya merasa lebih pintar.
Tapi karena saya sadar: saya ingin capek.
Capek mendampingi tumbuh kembangnya.
Capek ngobrol, debat, menjawab pertanyaan aneh, menghadapi fase bingung, fase bandel, fase sok tahu, fase “aku tahu hidup ini apa”—padahal belum.
Saya tidak tahu anak saya akan jadi apa nanti. Dan itu menakutkan. Tapi justru di situ letak tanggung jawabnya. Saya memilih hadir, bukan menyerahkan.
Saya juga sadar, saya hidup dalam bias. Pesantren hidup dalam biasnya sendiri. Sama-sama manusia, sama-sama punya keyakinan bahwa “cara saya yang paling benar”.
Bedanya, saya mengakui bias saya.
Kalau nanti anak saya memilih jadi baik, itu pilihannya.
Kalau suatu hari ia bingung dan memilih jadi brengsek, setidaknya saya bisa berkata jujur pada diri sendiri: saya tidak absen.
Saya tidak mencari ketenangan instan.
Saya memilih kegelisahan yang disadari.
Karena mendidik anak bukan soal menyerahkan ke sistem lalu berharap hasilnya sesuai doa. Ini soal menemani manusia kecil tumbuh dengan segala kemungkinan gagal.
Dan mungkin, ketenangan yang paling jujur bukan datang dari “anak saya di pesantren”,
tapi dari kalimat yang lebih sederhana:
“Saya sudah berusaha sepenuh tenaga.”
Kalau masih capek, ya wajar.
Namanya juga orang tua, bukan penitip harapan. 😄
0 komentar