Target Parenting Saya: Anak Tidak Trauma
Saya akhirnya punya satu target parenting yang sangat sederhana, nyaris tidak heroik, dan jelas tidak bisa dipamerkan di media sosial:
anak saya tidak trauma.
Bukan juara kelas.
Bukan masuk sekolah favorit.
Bukan ranking ini-itu.
Tidak trauma saja sudah cukup.
Lucunya, target ini justru lahir setelah saya cukup lama hidup dengan luka-luka kecil yang dulu dianggap wajar.
Dimarahi demi kebaikan.
Ditakuti demi disiplin.
Dipermalukan demi “biar kapok”.
Tidak ada yang jahat.
Semua niatnya baik.
Hasilnya? Ya… kita tahu sendiri.
Makanya sekarang, setiap kali anak saya rewel, saya bukan lagi bertanya:
“Ini anak kenapa sih?”
Tapi:
“Otak kecilnya lagi kebanjiran apa ya?”
Saya pernah ada di fase ingin jadi orang tua ideal.
Yang sabar.
Yang tenang.
Yang selalu tahu jawaban.
Capek.
Ternyata jadi manusia saja sudah berat, apalagi versi tutorial.
Sekarang saya lebih realistis.
Saya tidak menargetkan anak saya kuat.
Saya menargetkan dia aman.
Aman untuk salah.
Aman untuk bingung.
Aman untuk bilang, “Aku sedih,” tanpa takut dihakimi atau dibandingkan dengan anak tetangga.
Dulu, banyak dari kita tumbuh dengan standar:
kalau kamu nangis, berarti lemah.
kalau kamu marah, berarti kurang iman.
kalau kamu bertanya, berarti melawan.
Ajaibnya, kita diminta tumbuh jadi dewasa yang komunikatif.
Saya tidak mau mengulang lingkaran itu.
Bukan karena saya paling sadar.
Tapi karena saya capek memperbaiki diri sendiri di usia dewasa.
Saya malas—dan ini malas yang sehat.
Saya malas anak saya kelak harus ke sana-sini mencari validasi karena rumahnya dulu pelit empati.
Saya malas dia harus belajar mengelola emosi sendirian karena dulu perasaannya dianggap drama.
Makanya, target saya sederhana.
Kalau dia marah, saya tidak buru-buru membungkam.
Kalau dia malas, saya tidak langsung ceramah.
Kalau dia berantakan, saya tidak menganggap itu kegagalan moral.
Saya bukan ingin jadi orang tua lembek.
Saya hanya ingin anak saya tahu satu hal sejak awal:
emosinya tidak salah.
Kadang saya gagal.
Nada suara naik.
Wajah lelah bocor ke reaksi.
Saya minta maaf.
Dan itu, ternyata, pelajaran besar juga.
Anak belajar bahwa orang dewasa bisa salah.
Dan dunia tidak runtuh karenanya.
Saya tidak tahu masa depan seperti apa yang menunggu anak saya.
Dunia makin cepat, makin bising, makin kompetitif.
Kalau saya bisa menyisakan satu bekal saja,
bukan prestasi,
bukan hafalan,
tapi rasa aman di dalam dirinya sendiri—
itu sudah menang banyak.
Target parenting saya bukan anak hebat.
Target saya:
dia pulang ke dirinya sendiri tanpa luka yang harus disembunyikan.
Dan jujur saja,
itu juga sedang menyembuhkan saya.
0 komentar