Anak Saya Tidak Punya SLA (Dan Itu Mungkin Keputusan Terbaik Saya)
Saya hidup cukup lama di dunia yang percaya satu hal:
kalau tidak terukur, berarti tidak serius.
Kerja ada SLA.
Kirim barang ada SLA.
Datang telat dua menit, performa dipertanyakan.
Manusia dianggap mesin yang kebetulan bisa batuk, capek, dan punya masalah rumah.
Lalu saya jadi orang tua.
Dan mendadak semua logika itu rontok.
Anak saya suatu hari bilang, “Ayah, aku malas.”
Kalimat yang dulu, di dunia SLA, artinya: peringatan keras, performa menurun, evaluasi triwulan.
Aneh, saya tidak marah.
Mungkin karena sudah terlalu capek marah ke sistem lain.
Saya malah kepikiran:
kalau anak ini saya perlakukan seperti sistem kerja, berarti saya harus bikin dashboard.
Bangun tidur: target tercapai atau tidak.
Kamar beres: hijau atau merah.
Mood bagus: bonus.
Mood jelek: surat peringatan.
Kedengarannya absurd. Tapi jujur saja, banyak orang tua melakukannya. Hanya saja tidak pakai istilah SLA. Pakainya: “harusnya”, “seharusnya”, “masa begitu sih”.
Saya sadar satu hal:
anak bukan entitas yang bisa dipaksa stabil setiap hari.
Hari ini dia ceria, besok dia kosong.
Hari ini nurut, besok bantah.
Bukan error sistem. Itu justru tanda sistemnya hidup.
Di dunia kerja, kalau mesin error, kita tekan.
Di dunia anak, kalau ditekan terus, yang bocor batinnya.
Saya jadi paham kenapa banyak orang dewasa emosinya pendek.
Sejak kecil hidupnya di bawah SLA tak tertulis.
Harus cepat paham.
Harus cepat nurut.
Harus cepat dewasa.
Tidak ada ruang untuk lambat, bingung, atau “aku capek”.
Makanya sekarang, saat anak saya malas, saya tidak lagi bertanya,
“Kenapa kamu begitu?”
Saya ganti dengan,
“Oke. Terus kamu mau bikin sistem apa supaya tetap beres?”
Lucunya, dia mikir.
Bukan karena saya pintar.
Tapi karena saya tidak memaksanya masuk sistem saya.
Saya belajar: parenting bukan soal membuat anak efisien.
Tapi membuat hidup bisa ditinggali tanpa terus merasa gagal.
Dan di titik ini, saya justru makin malas mengamati manusia dewasa.
Terlalu banyak yang hidupnya seperti laporan mingguan.
Terlalu sedikit yang benar-benar hadir.
Mengurus anak jauh lebih jujur.
Dia tidak bisa pura-pura perform.
Kalau capek ya capek.
Kalau sedih ya sedih.
Tidak ada KPI untuk itu.
Mungkin itu sebabnya saya sekarang lebih betah di rumah, dibanding sibuk mengomentari sistem, institusi, atau manusia yang bocor karena tekanan.
Anak mengingatkan saya: hidup tidak harus selalu optimal.
Cukup layak dijalani.
Dan jujur saja,
kalau suatu hari anak saya tumbuh jadi manusia yang berani bilang “aku capek” tanpa merasa bersalah,
saya anggap SLA parenting saya tercapai.
0 komentar