Kok Semua Hal Sekarang Punya SLA, Bahkan Cinta?

by - 6:00 PM



Saya belakangan merasa mengamati manusia itu… biasa saja. Bukan karena manusianya makin sederhana, tapi karena polanya sudah kelihatan. Begitu kelihatan, gregetnya turun. Seperti nonton film yang twist-nya ketebak dari menit ke sepuluh.

Awalnya saya pikir ini cuma soal kerjaan. Ekspedisi, marketplace, sistem, SLA. Paket harus sampai sekian jam. Kirim hari ini sebelum 23.59. Kurir harus begini, seller harus begitu. Mesin tenang, manusia pontang-panting. Kalau meleset sedikit, bukan sistem yang salah, manusianya yang dianggap gagal.

Saya melihat banyak manusia bocor batin di situ. Nada suara naik, emosi pendek, marah ke orang yang salah. Kurir marah ke customer. Customer marah ke seller. Seller marah ke sistem. Sistem? Tetap dingin, tetap rapi, tetap minta performa.

Lalu entah kenapa, pola itu nyambung ke hal yang sama sekali tidak saya niatkan: agama.

Saya pernah bertanya baik-baik. Pertanyaan sederhana, logis, tidak menantang. Mengapa kajian di jalan umum, bukan di masjid? Pertanyaan itu tidak dijawab sebagai pertanyaan. Ia diproses sebagai pelanggaran.

Capnya cepat: tidak cinta rasul.

Di titik itu saya seperti melihat SLA yang sama, hanya beda bungkus. Ada standar cinta. Ada target kepatuhan. Ada indikator loyalitas. Kalau tidak sesuai, langsung merah. Tidak perlu dialog, tidak perlu konteks. Sistem sudah jalan.

Cinta, yang seharusnya hidup dan cair, berubah seperti dashboard performa.

Ironisnya, semakin keras sistem itu ditegakkan, semakin dingin manusianya. Nada bicara meninggi, empati menipis. Yang berbeda bukan diajak paham, tapi disingkirkan. Persis seperti kurir yang dimarahi karena telat dua menit, tanpa ada yang bertanya: macetnya di mana, capeknya di mana, manusianya di mana.

Saya tidak marah. Saya justru mundur pelan-pelan. Bukan karena kalah argumen, tapi karena merasa: oh, ini bukan ruang dialog. Ini ruang KPI.

Dan di situ, minat saya mengamati manusia pelan-pelan turun. Karena setelah tahu polanya, sisanya hanya pengulangan. Ego dibungkus sistem. Sistem dibela seolah wahyu. Yang kelelahan tetap manusia.

Mungkin karena itu sekarang saya lebih senang membicarakan parenting.

Anak tidak hidup dengan SLA yang kaku. Anak tidak bisa ditekan dengan indikator dingin. Anak butuh dijelaskan, bukan ditargetkan. Dipeluk, bukan diukur. Kalau salah, dicari sebabnya, bukan langsung dicap.

Dan lucunya, semakin sering saya belajar tentang anak, semakin saya sadar: banyak orang dewasa tidak pernah benar-benar keluar dari sistem hukuman itu. Hanya saja seragamnya berganti. Dulu rapor. Lalu fingerprint. Lalu KPI. Lalu label iman.

Saya tidak ingin berhenti menulis. Tapi mungkin saya akan menulis dengan napas yang lebih santai. Bukan untuk membongkar manusia, bukan untuk menguliti sistem. Sekadar mencatat: bahwa hidup terlalu luas untuk dipersempit oleh SLA di mana-mana.

Kalau cinta saja diberi tenggat waktu, mungkin yang lelah bukan imannya. Manusianya saja yang belum sempat bernapas.

Dan saya? Saya mau pulang. Ngurus yang lebih masuk akal. Anak, kehidupan, dan hal-hal yang masih mau diajak bicara tanpa dashboard.


You May Also Like

0 komentar