Tiga Hari Kotoran, Satu Burung, dan Saya yang Akhirnya Tidak Jadi Tuhan
Ini prestasi besar buat saya, sungguh. Bukan karena balkon akhirnya bersih, tapi karena kepala saya ikut rapi. Saya berdamai dengan pikiran sendiri—sesuatu yang dulu terasa lebih sulit daripada membersihkan kotoran burung tiga pagi berturut-turut.
Kalau ini terjadi pada versi lama diri saya, ceritanya pasti lain. Sudah ada CCTV terpasang, jaring anti-makhluk hidup menggantung tidak estetik, bahkan mungkin strategi paling kejam sudah dirancang rapi di kepala: menyediakan makanan, lalu—astaghfirullah—racunnya. Maafkan katarsis internal saya ya Allah. Pikiran itu nyata pernah lewat, meski hanya sebagai lintasan gelap yang cepat. Dan hari ini saya berani mengakuinya, bukan untuk dibenarkan, tapi untuk dilepaskan.
Padahal faktanya sederhana. Makhluk tak berakal bernama burung itu cuma numpang lewat. Melewatkan malam. Ia tidak tahu kalau di seberang rumah ada kebun. Ia tidak paham batas kepemilikan tanah, sertifikat, atau estetika balkon lantai dua. Ia hanya mencari atap, seperti siapa pun yang kehujanan.
Tiga hari ia buang kotoran di balkon saya. Tiga hari juga saya membersihkannya. Tidak ada negosiasi, tidak ada konflik terbuka, hanya dua spesies yang sama-sama bertahan hidup dengan caranya masing-masing. Dan di hari keempat, ia pergi. Tanpa pamit. Tanpa drama. Tanpa perlu dibunuh.
Di situ saya sadar, yang sebenarnya sedang diuji bukan kesabaran saya terhadap burung, tapi ego saya sebagai manusia. Ego yang merasa punya kuasa untuk mengatur segalanya, bahkan hidup dan mati makhluk lain, hanya karena ia “mengganggu”. Ego yang dulu akan berkata: ini wilayah saya. Sekarang saya bisa berkata: ini cuma persinggahan.
Saya memaafkan burung itu. Bukan karena ia meminta, tapi karena ia tidak tahu. Dan yang lebih penting, saya memaafkan diri saya sendiri—versi saya yang sempat ingin membunuh hewan tak berakal hanya demi rasa nyaman dan kontrol.
Ternyata kedamaian tidak datang dari memasang alat pengawas, pagar, atau jebakan. Ia datang dari satu keputusan kecil: tidak bereaksi berlebihan, dan membiarkan kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.
Hari ini balkon saya bersih. Tapi yang lebih bersih adalah batin saya. Saya tidak jadi Tuhan. Dan itu, anehnya, terasa sangat melegakan.
0 komentar