"Ah, Kan Sedikit Ini”: Dari Daun Pete Cina ke APBD

by - 6:00 AM

Dulu, waktu saya bocil, hidup itu benar-benar mode survival. Bukan versi motivator Instagram yang estetik, tapi survival yang kalau dipikir sekarang rasanya tidak manusiawi. Perut lapar itu nyata, dan solusi paling masuk akal waktu itu adalah daun pete cina. Daun. Bukan lauk. Bukan sayur pendamping. Daun, titik. Yang penting perut tidak melilit, badan bisa lanjut hidup satu hari lagi.

Saya dan kawan-kawan senasib juga akrab dengan aktivitas yang sekarang, kalau dibingkai hukum modern, bisa disebut “mencuri”. Tapi realitasnya tidak sesederhana itu. Buah-buahan liar di hutan, atau pohon di kebun yang pemiliknya bahkan lupa pernah menanamnya. Tidak ada niat mencuri, sungguh. Tidak ada sensasi menang. Yang ada hanya satu tujuan: ganjal perut. Bertahan hidup.

Menariknya, di tengah kerasnya hidup dan pola asuh orang tua yang tidak kenal kata lembut, kami punya kompas batin. Sebuah jangkar kehidupan. Aturannya sederhana, tapi menancap: boleh mengambil seperlunya kalau terpaksa. Kalau ada yang punya, lebih baik izin. Jangan rakus. Jangan serakah. Jangan menganggap dunia ini milikmu hanya karena kamu lapar.

Jangkar itu rupanya tidak copot sampai dewasa. Bahkan saat saya masuk ke lingkar pemerintahan, tempat godaan datang bukan lagi dalam bentuk buah, tapi angka. APBD. Judulnya harus habis. Pengeluaran bisa dimanipulasi. Keuntungan pribadi bisa “diselipkan”. Dan yang paling berbahaya: semuanya tampak rapi, legal, dan “ah kan sedikit ini”.

Di titik itu, jangkar saya menarik keras. Saya tahu betul, ini bukan hak saya. Saya masih hidup layak dengan gaji yang saya terima. Uang abu-abu yang dibagi rata agar semua diam—saya tidak bisa menelannya. Bagi saya, itu sudah masuk kategori korupsi. Halus, sopan, berjamaah, tapi tetap korupsi. Itulah alasan saya keluar. Bukan karena suci, tapi karena tidak sanggup hidup dengan batin yang bocor.

Belakangan saya merenung, mungkin banyak pelaku korupsi tidak langsung melompat ke angka M atau T. Mungkin mereka memulainya dari titik yang sangat manusiawi: survival. Dari kebutuhan. Dari kebiasaan kecil mengambil yang “bukan sepenuhnya haknya”. Dari kalimat pendek yang kelihatannya sepele tapi mematikan: ah, kan sedikit ini.

Di situ masalahnya. Normalisasi. Saat batas digeser pelan-pelan. Saat jangkar kehidupan tidak pernah dipasang, atau copot di tengah jalan. Saat rasa cukup mati, dan lapar berubah bentuk—bukan lagi lapar perut, tapi lapar kuasa, aman, dan pembenaran.

Saya tidak sedang menghakimi. Saya cuma bercermin. Dari daun pete cina, buah liar, sampai APBD. Jaraknya jauh secara angka, tapi dekat secara pola. Bedanya hanya satu: apakah kita masih punya jangkar, atau memilih melepasnya dan membiarkan diri hanyut, lalu kaget sendiri ketika sudah sampai di berita halaman depan.

You May Also Like

0 komentar