Ada Aja Idenya: Catatan dari Otak yang Tidak Pernah Tutup Gerai
Saya baru sadar, cara kerja otak saya mirip jingle Mr. D.I.Y.
Ada aja idenya.
Masuk ke gerainya itu pengalaman eksistensial. Kita cuma niat beli lakban, pulang-pulang bawa: pengait sapu, lampu LED sensor gerak, kotak pensil berkalkulator plus rautan plus cermin plus tabel perkalian. Barang-barang yang bikin kita reflektif sambil mikir,
“Ini siapa yang kepikiran bikinnya?”
lalu langsung beli.
Otak saya kurang lebih begitu.
Awalnya cuma satu topik.
Satu pertanyaan.
Satu kegelisahan kecil.
Lalu entah kenapa nyambung ke mana-mana.
Dari metafisik, loncat ke parenting.
Dari live jualan daster, nyasar ke sistem SLA.
Dari batin bocor, ke fingerprint kantor.
Dari neraka versi guru ngaji zaman kecil, ke kurir ekspedisi yang jutek.
Saya pikir akan berhenti di satu artikel terakhir.
Nyatanya, di sela waktu senggang, muncul lagi ide baru.
Bukan ide besar.
Bukan juga ide penting.
Ide receh, tapi mengganggu.
Kayak lagi di kasir Mr. D.I.Y:
“Eh ini lucu juga.”
Masuk keranjang.
Ratusan topik sudah lewat.
Ada yang datar.
Ada yang marah.
Ada yang nakal.
Ada yang kontemplatif.
Semua pernah mampir.
Dan lucunya, saya tidak pernah merasa sedang “mencari ide”.
Ide itu datang sendiri, kayak barang-barang di rak Mr. D.I.Y yang kita tidak tahu kita butuhkan… sampai kita lihat.
Saya bisa nulis soal manusia kesurupan, lalu tiba-tiba kepikiran kenapa orang malas, lalu berakhir di teori bahwa manusia jadi pintar justru untuk menormalisasi rasa malas.
Remote TV.
Pintu otomatis.
Belanja online.
Review film 15 menit buat yang malas nonton 2 jam.
Bukan malas dalam arti hina.
Tapi malas sebagai bentuk adaptasi.
Lalu otak ini iseng lagi:
“Eh, ini nyambung ke SLA.”
Masuk.
Fingerprint.
Absen.
Sistem.
Manusia yang dihitung seperti mesin.
Kurir yang batinnya bocor bukan karena dia jahat, tapi karena hidupnya ditekan ritme yang tidak mengenal macet, lelah, dan salah alamat.
Dan saya tahu itu bukan teori.
Saya pernah hidup di bawah sistem serupa.
Makanya ketika melihat kurir jutek, refleks saya bukan marah, tapi mengenali.
“Oh. Ini bocor.”
Saya kenal baunya.
Sama seperti dulu, ketika wudhu dinilai pakai SLA:
kurang sempurna → neraka.
Tidak ada ruang konteks.
Tidak ada niat.
Hanya hasil.
Ajaibnya, semua ini nyambung.
Tanpa direncanakan.
Seperti Mr. D.I.Y yang menjual barang dari ujung rambut sampai ujung kaki, otak saya menjual ide dari ujung metafisik sampai ujung sistem logistik.
Lengkap.
Kadang tidak perlu.
Tapi selalu ada.
Dan mungkin itu sebabnya saya betah menulis.
Bukan untuk menyimpulkan.
Bukan untuk menggurui.
Tapi untuk menaruh barang-barang pikiran ini di rak, satu per satu.
Kalau ada yang berguna, silakan ambil.
Kalau tidak, ya tidak apa-apa.
Namanya juga…
ada aja idenya.
0 komentar