Dari Fingerprint sampai Neraka: Sejarah Panjang SLA Menghukum Niat Baik

by - 12:00 PM


Saya belakangan sadar kenapa saya bisa langsung mengenali manusia yang “bocor batinnya”. Terutama kurir ekspedisi.
Nada bicara yang tegang. Gerak tubuh yang terburu-buru. Emosi yang mudah nyiprat ke customer hanya karena pintu rumah dibuka telat lima detik.

Awalnya saya kira ini soal karakter. Ternyata bukan.
Ini soal tekanan sistem.

Kurir hidup di bawah SLA. Paket dijemput sekian menit, sampai gudang sekian jam, keluar lagi sekian jam, tiba di rumah customer sekian detik. Sistem tidak peduli macet, motor rewel, seller belum siap, customer susah dihubungi, atau kurir yang badannya sudah gemetar nahan capek.

Mesin tidak kenal konteks.
Ia hanya mengenal waktu.

Dan manusia yang dipaksa hidup dengan ritme mesin, cepat atau lambat akan bocor. Bocornya bukan di laporan, tapi di emosi.

Lucunya, pola ini tidak asing bagi saya.
Saya juga pernah hidup di bawah SLA — hanya saja versinya lebih spiritual.

Waktu kecil, saya pernah “sudah berusaha” wudhu.
Air ada. Niat ada. Tapi teknik belum sempurna.
Guru saya memberi SLA sederhana:

“Wudhu kaya gitu masuk neraka.”

Tidak ada kolom niat.
Tidak ada toleransi proses belajar.
Tidak ada ruang lelah atau kebingungan anak kecil.

Sama seperti fingerprint di kantor.
Telat ya telat.
Salah ya salah.

Sejak itu, saya paham satu hal:
SLA tidak pernah mendidik, ia hanya menghakimi.

Efeknya?
Manusia jadi dingin.

Bukan karena jahat.
Tapi karena belajar bahwa niat baik pun tidak dihitung.

Di ekspedisi, efeknya jelas. Kurir marah ke customer. Customer marah ke seller. Seller dapat bintang satu. Semua merasa benar, semua lelah, tidak ada yang pulang dengan batin utuh.

Di ruang spiritual, efeknya sama.
Anak-anak belajar beribadah bukan karena paham, tapi karena takut.
Bukan karena cinta, tapi karena ancaman.

Ironisnya, sistem selalu terlihat rapi di atas kertas. Grafik naik. SLA hijau. Dashboard bersih.
Yang berantakan hanya satu: manusianya.

Saya sering ngobrol dengan kurir. Tanya hal sederhana: “Gimana bang, di gudang seru?”

Pertanyaan remeh itu sering membuat mereka seperti menarik napas panjang. Lalu cerita mengalir:

  • dimarahi karena telat dua menit,
  • ditekan target tidak masuk akal,
  • demo kecil-kecilan karena sistem terlalu kejam.

Saya tidak heran.
Saya pernah bocor juga.
Bukan karena paket, tapi karena neraka.

Bedanya, sekarang saya tahu:
bukan manusianya yang lemah,
tapi sistem yang lupa bahwa manusia bukan mesin.

Mesin boleh hidup di SLA.
Manusia butuh ruang bernapas.

Kalau tidak, ia akan tetap bekerja, tetap hadir, tetap mengantar paket —
tapi pulang sebagai orang lain: dingin, impulsif, dan pelan-pelan kehilangan empati.

Dan mungkin, di situlah neraka sebenarnya bekerja.

You May Also Like

0 komentar