Ini Saya yang Bingung, atau Memang Begini Cara Kerjanya?

by - 12:00 AM

 Saya ini orangnya sederhana. Kalau melihat sesuatu yang janggal, refleks pertama bukan marah, tapi heran. Kepala saya miring sedikit, alis naik, lalu batin bertanya pelan: loh, kok bisa ya?

Rasa heran itu datang setiap kali saya iseng membuka kanal resmi institusi kepolisian. Hampir semua kontennya bernada sama: pujian. Polisi baik, polisi hebat, polisi humanis, polisi peduli. Dari sudut kamera sampai pilihan kata, semuanya rapi, bersih, dan penuh afirmasi diri. Seolah-olah ini bukan kanal informasi publik, tapi cermin besar tempat bercermin sambil berkata, “Aku luar biasa.”

Masalahnya, rasa heran saya tidak berhenti di situ. Begitu saya turun ke kolom komentar, suasananya berubah total. Netizen tidak ikut larut dalam pujian. Mereka tertawa, menyindir, sarkas, bahkan kadang kejam. Nadanya bukan marah membabi buta, tapi seperti orang yang sudah terlalu sering kecewa sampai capek menjelaskan. Saya membaca komentar-komentar itu sambil mikir: kok jaraknya sejauh ini ya, antara panggung resmi dan panggung warga?

Di satu sisi, institusi sedang berkata, “Kami baik-baik saja.” Di sisi lain, masyarakat seperti menjawab, “Iya, iya… kami lihat kok, versi kami.”

Lalu ada satu detail yang entah kenapa selalu mengganjal. Ini mungkin terdengar remeh, tapi justru karena remeh itulah saya curiga. Hampir setiap foto personel yang ditampilkan di media resmi, entah kenapa, sering menampilkan polisi dengan badan gendut. Perut menonjol, seragam ketat, pose formal. Saya sempat berpikir: apa ini kebetulan? Atau memang kurasi visualnya begitu?

Di titik ini, pikiran saya mulai nakal. Jangan-jangan ini strategi. Bukan untuk menghina, tapi untuk mengalihkan. Publik jadi sibuk mengomentari fisik: “kok gendut?”, “polisi kok kayak gini?”, alih-alih membahas hal yang lebih substantif seperti kinerja, sistem, atau kebijakan. Fokus bergeser ke hal yang aman untuk ditertawakan bersama. Lemak jadi tameng, bukan peluru.

Saya lalu tertawa sendiri. Ini pikiran sinis, iya. Tapi sinisme sering lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kelelahan melihat pola yang berulang. Kalau yang ditampilkan selalu pujian, sementara pengalaman di lapangan tak selalu seindah itu, wajar kalau publik akhirnya memilih humor sebagai mekanisme bertahan.

Yang membuat saya makin bingung, bukankah institusi sebesar ini pasti punya tim komunikasi, analis persepsi publik, bahkan konsultan citra? Masa iya mereka tidak membaca komentar? Atau justru membaca, tapi memilih berpura-pura tidak paham? Atau lebih ekstrem lagi: memang tidak ingin dipahami, cukup ingin didengar sepihak?

Di titik ini saya berhenti bertanya terlalu jauh. Bukan karena menemukan jawabannya, tapi karena sadar: mungkin kebingungan ini bukan bug, tapi fitur. Publik dibiarkan bingung, tertawa, dan sibuk sendiri. Sementara narasi resmi tetap berjalan rapi, konsisten, dan aman dari koreksi.

Saya menutup layar, menghela napas, lalu senyum kecil.
Mungkin memang saya yang bingung.
Atau mungkin, beginilah cara sebuah institusi berbicara pada publik yang sudah terlalu pintar untuk percaya mentah-mentah, tapi terlalu lelah untuk terus berdebat.

You May Also Like

0 komentar