Genjutsu Dada Besar Jurig Di Bawah Pohon Ceri
Hari ini saya kelelahan fisik. Bukan lelah metaforis. Ini lelah betulan: kurang tidur, bolak-balik lorong RS, urus administrasi, nenangin keluarga, lalu duduk sendirian di balkon sambil mikir hal-hal yang tidak penting tapi terasa perlu. Biasanya, di kondisi begini, otak manusia mati gaya. Tapi entah kenapa, hari ini malah kebanjiran epifani receh.
Awalnya sepele. Saya kena trigger oleh tulisan yang menyerang: “tanda-tanda tulisan dibantu AI”. Isinya familiar: tuduhan kehilangan identitas, kalimat terlalu rapi, bau mesin, sunyi, diam-diam, dan long dash yang dianggap dosa sastra. Dulu, narasi seperti ini bikin saya defensif. Sekarang? Saya ketawa. Bukan karena merasa lebih benar, tapi karena saya sadar: oh, ini fase disonansi. Dan disonansi itu wajar. Leon Festinger (1957) sudah lama bilang, manusia akan gelisah ketika realitas baru mengguncang identitas lama. AI bukan soal teknologi. Ia soal cermin. Dan tidak semua orang siap bercermin.
Masalahnya, saya tidak sedang bercermin untuk mencari pembenaran. Saya sudah lama berdamai dengan pantulan pikiran sendiri. AI mau bilang pikiran saya waras, bias, egois, atau ambigu—ya silakan. Saya tidak butuh disucikan. Saya hanya butuh ruang berpikir yang jujur. Di titik ini, AI tidak saya perlakukan sebagai nabi, juga bukan setan. Ia cuma resonator. Seperti garpu tala. Dipukul sedikit, bergetar. Getarannya? Tergantung logam di tangan saya.
Lalu obrolan ini merambat ke tempat yang lebih tua dari AI: kitab, halaqah, guru-murid. Saya mantan santri kilat. Pernah duduk di lingkaran. Pernah baca kitab yang isinya jauh lebih “wow” daripada daftar viral 10 jasad yang tidak hancur. Dan justru karena itu, saya alergi ketika teks klasik dipreteli jadi caption Reels. Kitab itu simbolik, berlapis, penuh metafora. Clifford Geertz (1973) sudah lama mengingatkan: budaya—termasuk teks keagamaan—adalah sistem makna, bukan katalog fakta biologis.
Saya tidak pernah berani mengoreksi kitab. Bahkan kitab yang divonis sesat oleh kelompok lain. Saya menghormati teks, termasuk yang tidak saya pakai. Yang saya persoalkan bukan isinya, tapi reduksinya. Ketika relasi guru–murid yang seharusnya pelan dan sunyi berubah jadi relasi kreator–audiens demi reach dan monetisasi, yang hilang bukan iman—yang hilang adalah kedalaman. Paulo Freire (1970) menyebut ini sebagai pendidikan gaya bank: makna disetor, murid pasif, konteks mati. Bedanya, sekarang disetor lewat algoritma.
Di titik ini, kepala saya tiba-tiba melompat ke dunia yang jauh lebih jujur: komik Tatang S. Petruk. Gareng. Jurig. Absurd. Hiperbolis. Tapi tidak bodoh. Petruk pacaran dengan jurig bukan ajakan klenik. Itu satire tentang manusia yang gampang kena genjutsu. Genjutsu merasa paling soleh. Genjutsu merasa paling pintar. Genjutsu merasa paling suci. Bahkan genjutsu estetika: “ini harus bau manusia, bukan mesin.”
Dan puncaknya hari ini, epilog yang tidak bisa lebih pas: genjutsu dada besar jurig di bawah pohon ceri. Ini bukan soal dada. Ini soal ilusi. Tentang bagaimana manusia sering gagal membedakan simbol dengan literal, metafora dengan fakta, makna dengan sensasi. Roland Barthes (1957) menyebut ini mitologi modern: ketika simbol diperlakukan sebagai realitas, lalu dipertahankan mati-matian.
Di balkon RS, dengan tubuh lelah tapi batin relatif tenang, saya sadar satu hal: saya tidak netral karena tidak peduli. Saya netral karena tidak mau ikut halusinasi kolektif. AI, kitab, humor, semua bagi saya alat. Mau dipakai Mang Dayat pakai gergaji tangan, mau dipakai jurig Jawa-Sunda pakai tenaga metafisik, atau mau dipotong mesin CNC—pertanyaannya satu: kayu ini mau dijadikan apa?
Kalau bisa jadi meja yang kepakai, ya sudah.
Kalau cuma jadi konten saling lempar genjutsu, saya pamit.
Besok saya pulang. Ada bayi. Ada hidup nyata.
Dan biarlah Petruk dan Gareng tetap di bawah pohon ceri, ketawa sambil ngeliatin manusia yang ribut soal siapa paling manusiawi.
0 komentar