Orde Baru Itu Zombie: Mati, tapi Jalan Lagi
Saya sering tersenyum pahit setiap kali mendengar pertanyaan, “Orde Baru balik lagi ya?”
Pertanyaan itu terdengar polos, tapi jawabannya tidak sesederhana anggukan atau gelengan kepala. Semakin saya memikirkannya, semakin terasa bahwa Orde Baru tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berhenti disebut namanya. Selebihnya, ia belajar menyamar.
Saya tumbuh dengan memori Orde Baru sebagai sesuatu yang katanya sudah dikubur tahun 1998. Reformasi datang, jalanan penuh teriakan, dan kita diajari percaya bahwa rezim itu sudah mati. Tapi lama-lama saya sadar: yang mati itu presidennya, bukan cara berpikirnya. Yang tumbang itu simbolnya, bukan refleks kekuasaannya.
Orde Baru, dalam ingatan saya, bukan cuma Soeharto. Ia adalah logika. Logika bahwa negara harus tenang, walau rakyat tercekik. Bahwa stabilitas lebih penting daripada ribut soal keadilan. Bahwa militer adalah solusi paling cepat saat sipil dianggap cerewet. Logika ini tidak ikut dikubur. Ia diwariskan, rapi, senyap, dan sabar menunggu momen.
Saya melihatnya pertama kali dari fase transisi. Ada pemimpin yang lahir dari rahim Orde Baru, tapi justru membuat keputusan yang terasa seperti pengkhianatan pada induknya sendiri. Ia membuka keran kebebasan, membiarkan pers bernapas, bahkan menyerahkan wilayah yang selama ini dipertahankan mati-matian. Aneh rasanya: anak Orde Baru yang justru menolak mewariskan Orde Baru. Mungkin karena itu umurnya pendek.
Lalu datang pemimpin yang tidak benar-benar lahir dari Orde Baru, tapi hidup cukup lama di sekitarnya. Ia bicara demokrasi dengan keyakinan seorang kiai, tapi menghadapi kekuasaan lama dengan ketulusan yang nyaris naif. Ia terlalu percaya bahwa semua orang bisa diajak baik-baik. Ternyata kekuasaan tidak bekerja dengan etika pengajian. Ia jatuh bukan karena salah niat, tapi karena sendirian.
Setelah itu, negara seperti memasuki fase lelah. Kita tidak lagi ingin perubahan besar, kita ingin aman. Kita ingin harga stabil, konflik mereda, dan politik tidak ribut. Di fase ini, Orde Baru tidak perlu berteriak. Ia cukup duduk manis. Tidak dibongkar, tidak ditantang, hanya didiamkan. Diam yang nyaman sering kali lebih berbahaya daripada penindasan yang terang-terangan.
Saya kemudian menyadari, Orde Baru belajar satu hal penting: beradaptasi. Ia tidak lagi datang dengan sepatu lars dan pidato keras. Ia datang dengan jas rapi, bahasa santun, dan jargon demokrasi. Ia bicara reformasi sambil memastikan tidak ada yang benar-benar berubah secara struktural. Anak-anak pejabat masuk politik bukan sebagai skandal, tapi sebagai “proses alamiah”. Dinasti diberi nama partisipasi.
Dan ketika akhirnya tampil sosok yang sama sekali bukan bagian dari keluarga lama, saya pikir ini akan jadi pemutusan sejarah. Ternyata tidak. Justru di titik ini, Orde Baru menemukan bentuk paling efisiennya. Tanpa nostalgia, tanpa ideologi, tanpa romantisme masa lalu. Militer kembali ke ruang sipil bukan karena cinta, tapi karena praktis. Kekuasaan butuh alat yang cepat, patuh, dan tidak banyak bertanya. Alasan selalu tersedia: demi ketertiban, demi pembangunan, demi rakyat juga katanya.
Saya melihatnya seperti zombie. Ia sudah mati secara hukum, tapi berjalan secara sosial. Ia tidak hidup sebagai ide yang dirayakan, melainkan sebagai kebiasaan yang diterima. Kita tidak lagi sadar sedang berhadapan dengannya, karena ia terasa masuk akal. Bahkan sering terasa perlu.
Dan sekarang, ketika wajah lama berdiri di depan panggung, ia tidak perlu membangun apa-apa. Infrastruktur kekuasaannya sudah tersedia. Aturan sudah lentur, kritik sudah capek, dan publik sudah terbiasa dengan kalimat, “ya mau gimana lagi?” Zombie itu tidak menyerang. Ia hanya melanjutkan langkah yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang tidak enak di perut: mungkin masalahnya bukan semata para pemimpin. Mungkin masalahnya juga ada pada kita. Kita yang diam-diam lebih nyaman dengan keteraturan daripada kebebasan. Kita yang sering mengeluh soal kekuasaan, tapi panik ketika konflik benar-benar terjadi. Kita yang ingin hidup aman, meski harus mengorbankan sedikit demi sedikit ruang bernapas.
Jadi ketika ditanya apakah Orde Baru kembali, saya ingin menjawab lebih jujur: Orde Baru tidak kembali, karena ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu kita lengah, lalu berjalan lagi—pelan, senyap, dan kali ini tanpa perlu menjelaskan dirinya siapa.
0 komentar