Hari Itu Saya Belajar: Cinta Rasul Bisa Menghentikan Lalu Lintas
Ini lucu sekaligus melelahkan sebenarnya—dan saya ceritakan sambil menertawakan diri sendiri.
Dari dulu, refleks saya sederhana: menarik diri.
Bukan karena merasa lebih benar, tapi karena alarm batin saya bunyi pelan: “eh, ini kok aneh ya?”
Pernah satu waktu, jalan umum diblokir. Katanya ada kajian.
Bukan masjid, bukan aula, bukan lapangan. Jalan. Umum.
Motor muter, orang kerja telat, ibu-ibu belanja kebingungan.
Saya tanya baik-baik. Sopan. Tidak nyolot. Tidak debat.
“Maaf, kenapa harus di jalan umum? Kenapa tidak di masjid?”
Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
“Berarti kamu tidak cinta Rasul.”
Saya bengong sebentar.
Oh… ternyata cinta kepada Rasul sekarang bisa diukur dari kesediaan membuat macet.
Katanya ini syiar.
Di titik itu saya sadar, saya tidak sedang berhadapan dengan ajaran, tapi simbol yang sedang defensif.
Karena kalau sesuatu benar-benar kokoh, ia tidak perlu marah saat ditanya.
Kalau sesuatu benar-benar suci, ia tidak butuh memaksa.
Dan yang paling lucu—atau tragis—ini bukan soal Rasul sama sekali.
Nama beliau hanya dipinjam. Dipakai sebagai tameng agar orang tidak boleh bertanya.
Saya usil, tapi usil ke diri sendiri.
Saya periksa ulang:
Apakah saya memang dingin?
Apakah saya sinis?
Atau jangan-jangan saya hanya alergi pada logika yang dipukul pakai label surga-neraka?
Kesimpulan saya selalu sama:
Saya lebih nyaman mencintai Rasul dengan tidak mematikan akal.
Dengan tidak mengganggu hak orang lain atas nama kebaikan.
Dengan tidak memaksa orang tunduk hanya karena satu kelompok merasa paling sah mewakili langit.
Kalau bertanya saja sudah dicap tidak cinta,
berarti yang dijaga bukan iman, tapi ego kolektif.
Jadi iya, saya memilih menyingkir.
Bukan karena anti kajian.
Bukan karena anti syiar.
Tapi karena saya percaya:
jalan umum bukan tempat menutup nalar,
dan cinta kepada Rasul tidak butuh blocking jalan—
cukup membuka hati dan kepala, bersamaan.
Huhuhu.
0 komentar