Ketika Cinta kepada Nabi Dipakai untuk Mematikan Otak
Saya ini orang yang sangat mudah hormat.
Bukan karena silau jabatan, bukan karena suara keras, apalagi karena jubah panjang. Saya hormat pada siapa pun yang bergerak di ranah kemanusiaan, di bidang apa pun, selama ia membawa manusia jadi lebih manusia.
Soal spiritual, saya tidak bingung. Panutan saya jelas: Nabi Muhammad. Setelah itu para ulama yang benar-benar menyambung ajarannya—bukan menyambung silsilahnya saja.
Tapi justru di situ ironi sering muncul.
Ada seseorang datang, berjubah, berkopiah, berkata dengan tenang tapi penuh klaim:
“Saya keturunan Nabi.”
Dan entah kenapa, di titik itu, logika masyarakat awam langsung ambruk seperti bangunan tua.
Nalar bengkok.
Pertanyaan berhenti.
Kritik dianggap dosa.
Masyarakat berubah fungsi: bukan lagi murid yang berpikir, tapi alas kaki ego seseorang. Bukan karena ajaran yang ia sampaikan, tapi karena siapa yang ia klaim sebagai leluhurnya.
Saya selalu bertanya dalam hati:
Sejak kapan nasab menjadi pengganti akhlak?
Sejak kapan garis keturunan bisa menutup mulut akal sehat?
Yang lebih mengganggu, ketika saya benar-benar mendengar isi ceramahnya, yang keluar bukan keteduhan, tapi umpatan. Dunia dibelah dua secara kasar:
Di dalam kelompoknya adalah “kita”,
di luar itu adalah “salah”.
Semua yang berbeda disapu dengan satu kalimat: sesat, musuh, ancaman.
Di titik itu, saya justru merasa Nabi yang dicintai namanya sedang dipakai, bukan diikuti.
Karena setahu saya, Nabi tidak datang untuk membuat manusia berhenti berpikir.
Beliau datang justru untuk membangunkan kesadaran.
Saya tidak menolak cinta kepada Rasul. Tidak.
Saya curiga pada cinta yang membuat orang tidak boleh bertanya.
Cinta yang membuat akal diparkir.
Cinta yang berubah jadi alat kekuasaan.
Bagi saya, cinta kepada Nabi seharusnya membuat seseorang lebih rendah hati, bukan lebih tinggi suara. Lebih lembut pada manusia, bukan lebih rajin memusuhi. Lebih sibuk membenahi diri, bukan menghakimi dunia.
Kalau suatu hari ada orang berkata,
“Jangan kritis, ini demi cinta kepada Rasul,”
saya justru ingin bertanya pelan:
“Kok cinta itu malah bikin kita mirip gerombolan, bukan umat?”
Mungkin yang paling berbahaya bukan kebencian pada Nabi,
tapi cinta yang dipakai untuk mematikan nalar—
karena dari situlah ego bisa berdandan paling suci.
0 komentar