Ketika Ular Sudah Mati, Tapi Logika Masih Terancam
Saya baru sadar, yang bikin saya kesel kemarin itu bukan ularnya.
Ularnya sudah selesai. Shutdown rapi. Tidak ada drama. Keluarga aman. Titik.
Yang belum selesai justru logika kolektif.
Di grup komplek, saya sudah menyampaikan informasi paling penting dan paling inti:
ular masuk rumah, sudah ditangani, keluarga selamat.
Harusnya itu penutup. Fade out. Credit title.
Lalu muncul satu pertanyaan, niatnya baik, bahasanya lembut, penuh empati:
“Kucingnya aman kan, Pak? Nggak kenapa-kenapa?”
Saya berhenti sebentar.
Bukan karena marah. Tapi karena otak saya loading.
Saya kenal ibu itu. Baik. Baik banget.
Ini tipe orang yang kalau ada kucing ketabrak mobil, dia yang paling depan teriak:
“Cek CCTV! Harus ketemu pelakunya!”
Dan memang waktu itu selesai. Kucing dikuburkan satpam, kasus ditutup, emosi mereda.
Tapi di kasus ini…
saya malah geleng-geleng sendiri.
Secara logika paling dasar, yang bahkan tidak perlu Google:
- Kucing mengejar ular.
- Ular kabur.
- Kabur = kalah.
- Yang kalah = inferior.
- Yang unggul = aman.
Ini bukan filsafat Yunani. Ini Discovery Channel level anak SD.
Ular masuk rumah bukan karena dia berani.
Tapi karena dia panik.
Dan makhluk panik tidak sedang dalam posisi dominan.
Tapi pertanyaan itu muncul.
Bukan karena bodoh.
Justru karena terlalu baik.
Di titik ini saya sadar:
kebaikan yang tidak diiringi logika bisa membuat arah empati salah sasaran.
Ular mati → keluarga selamat → cerita selesai.
Eh, fokusnya malah bergeser ke kucing.
Bukan salah kucingnya.
Bukan salah ibunya.
Ini murni soal logika yang patah karena emosi terlalu penuh.
Saya tidak membalas dengan ceramah.
Tidak juga dengan sarkasme.
Saya jawab datar, seaman mungkin:
“Alhamdulillah, kucingnya aman.”
Dan memang itu benar.
Bukan bohong.
Tapi juga bukan inti.
Yang saya rasakan setelah itu bukan marah, tapi geli.
Geli karena menyadari, di masyarakat kita, kadang:
- bahaya sudah lewat,
- korban sudah aman,
- tapi empati masih mondar-mandir mencari objek.
Seperti sirine yang bunyinya masih nyaring, padahal kebakaran sudah padam.
Ibu itu tetap orang baik.
Saya tidak ingin mengubahnya.
Saya hanya mencatat satu hal dalam kepala saya:
Logika bisa patah bukan karena kebencian, tapi karena cinta yang kebablasan.
Dan mungkin, di dunia yang penuh kepanikan simbolik ini,
bersikap tenang justru terlihat aneh.
Padahal saya hanya ingin satu hal:
kalau ularnya sudah mati,
jangan hidupkan lagi kepanikan baru.
0 komentar