Stick Panjang, Kucing Lelah

by - 6:00 PM

Saya mulai merasa ada yang ganjil, bukan karena ributnya, tapi karena kepada siapa ribut itu diarahkan.

Di media sosial, satu akun dengan nama yang bahkan tidak bisa dipanggil sebagai manusia—entah pesbuknews, twitternews, atau nama acak lain—melempar satu narasi panas. Bukan laporan. Bukan kajian. Hanya potongan kalimat yang dipelintir sedikit, diberi judul menggoda, lalu dilepas ke kerumunan.

Dan seperti biasa, kerumunan menyambutnya dengan semangat yang menggetarkan layar. Ribuan komentar. Saling hina. Saling merasa paling benar. Saling mengklaim moral, logika, bahkan Tuhan, padahal yang sedang mereka hadapi bukan siapa-siapa. Tidak ada redaksi. Tidak ada alamat. Tidak ada pintu untuk diketuk. Yang ada hanya gema.

Saya tidak marah pada perbedaan pendapat. Itu wajar. Manusia selalu berisik sejak ada api unggun dan warung kopi. Yang membuat saya lelah adalah melihat emosi diperah begitu murah, seolah marah adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan. Seolah menghina orang asing di kolom komentar adalah kontribusi nyata bagi bangsa.

Yang lebih getir, banyak dari mereka bukan anak ingusan. Mereka orang dewasa. Punya anak. Punya pekerjaan. Punya kehidupan nyata. Tapi dengan mudahnya terseret ke pertengkaran yang tidak jelas siapa dalangnya dan untuk apa.

Saat itu tiba-tiba saya teringat mainan kucing.

Tongkat panjang dengan tali di ujungnya. Ujung tali digerakkan sedikit, kucing melompat. Digoyang lagi, kucing mengejar. Bukan karena bodoh, tapi karena insting. Bedanya, kucing tidak merasa sedang membela kebenaran. Ia hanya bereaksi.

Di sini, saya melihat manusia yang bereaksi—namun merasa mulia saat melakukannya.

Akun anonim itu seperti tangan yang memegang stick. Ia tidak ikut lelah. Tidak ikut berkelahi. Ia hanya menggerakkan isu, menonton ributnya, lalu menghitung trafik. Sementara di bawah, orang-orang saling mencakar dengan keyakinan penuh bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang penting.

Saya berdiri agak ke pinggir. Tidak ikut lompat. Bukan karena saya lebih pintar, tapi karena saya mulai melihat polanya. Saya melihat bahwa ribut ini tidak pernah selesai, hanya berpindah topik. Hari ini A, besok B, lusa C. Semua panas. Semua darurat. Semua minta emosi sekarang juga.

Dan di titik itu, ada rasa getir yang aneh. Bukan sedih, bukan marah—lebih seperti melihat orang dewasa berdebat dengan bayangan mereka sendiri. Capek, tapi juga kasihan.

Saya jadi paham, ternyata bukan kebenaran yang dicari, melainkan penyaluran. Emosi butuh pintu keluar, dan akun-akun tanpa wajah itu menyediakan pintu daruratnya. Murah. Cepat. Tanpa tanggung jawab.

Saya tidak merasa lebih suci karena memilih diam. Saya hanya tahu, kalau terus melompat mengejar ujung tali, yang lelah itu saya sendiri. Sementara pemilik stick akan selalu punya tali baru.

Dan hari ini, saya memilih tidak jadi kucing yang kehabisan napas.

You May Also Like

0 komentar