Saya Siap Membunuh Last Boss, Ternyata Dia Logout Duluan
Saya mantan gamer. Jenis yang kalau masuk dungeon, tidak suka lari sebelum peta terbuka semua. Peti harus dibuka, monster harus dicek, dan kalau ada boss, ya harus ketemu—minimal tahu pola serangannya. Kabur itu pilihan terakhir, dan itu pun sambil nyimpen dendam kecil: nanti kita ketemu lagi.
Mungkin karena itu, ketika hidup membawa saya ke dunia marketplace, gudang ekspedisi, tiket retur, dan SOP berlapis-lapis, otak saya bekerja dengan cara yang sama. Saya tidak langsung marah. Saya tidak teriak. Saya mengamati. Ini slime, ini goblin, ini mini boss, dan—oh—ini sepertinya last boss, suaranya keras, teksnya kapital semua.
Masalahnya sepele tapi menyebalkan. Saya kirim daster baru. Yang kembali ke saya daster bekas, aromanya sudah punya sejarah. Saya tidak tahu siapa yang salah. Kurir? Gudang? Sistem paralel semesta? Saya tidak peduli. Saya hanya tahu satu hal: ini bukan barang saya.
Saya buka tiket. Platform menilai. Saya menang. Harusnya selesai. Tapi tidak. Datanglah pesan dari pihak ekspedisi, nadanya menekan, meminta laporan dicabut. Katanya paket sudah diterima seller. Benar. Tapi isi paketnya bukan hidup saya yang dulu.
Di titik ini, gamer dalam diri saya mulai bangun dari tidur panjangnya. Bukan untuk menyerang, tapi untuk memetakan skenario. Kalau ini gagal, apa langkah berikutnya? Kalau ditekan lagi, apa skill yang dibuka? Kalau buntu, apa ultimate yang disimpan?
Lucunya, saya tidak mengeluarkan apa-apa.
Saya hanya menjawab datar, dingin, nyaris membosankan: bahwa ekspedisi tidak berhak mengintervensi relasi seller dengan platform. Titik. Tidak ada efek suara. Tidak ada animasi. Tidak ada rage mode.
Dan di situlah keajaiban terjadi.
Last boss yang barusan berisik itu… mengecil. Nada berubah. Kalimatnya sopan. Ada “baik, mas”, ada “mohon dicek”, ada “sore, mas”. Rasanya seperti sudah siap minum potion terakhir, eh musuhnya malah disconnect.
Saya bengong.
Lah? Ini doang?
Sejak itu, paket saya tidak dijemput lagi. Disarankan antar ke gudang lain. Saya tertawa kecil. Ini manusia bicara SOP, tapi tidak kuat hidup di dalam SOP. Ketika prosedur dipakai sebagai pelindung diri, semua baik-baik saja. Tapi saat prosedur dipakai balik, emosinya kebakaran jenggot.
Di kepala saya sempat muncul skenario paling gelap. Kalimat pamungkas. Kalimat kejam. Kalimat yang kalau dikeluarkan, game langsung masuk cutscene: “Saya laporkan Anda ke pusat. Kita lihat siapa yang kena PHK.”
Full potion. Ganti item. Skill cooldown habis.
Tapi itu tidak pernah saya pakai.
Karena ternyata dunia manusia berbeda dengan game. Monster di game tidak punya rasa. Manusia punya. Dan rasa itu—ego, posisi, takut—rapuh sekali. Kadang cukup disentuh, runtuh sendiri.
Istri saya cuma bilang, “Kalau ribet, blok aja.”
Masuk akal. Dia tipe speedrunner. Saya tipe completionist. Saya ingin tahu: kenapa ini bisa terjadi, dan bagaimana cara keluar tanpa mati konyol.
Yang lucu, dari semua dungeon yang pernah saya lewati, ini yang paling absurd. Saya siap perang panjang. Saya siap capek. Saya siap kalah. Tapi pertarungan selesai sebelum dimulai.
Dan di situlah saya sadar:
bukan saya yang terlalu galak.
bukan kalimat saya yang kejam.
Realitas manusia memang sering sok sangar, padahal HP-nya tinggal satu bar.
Saya pulang, minum susu, batin tenang.
Dungeon clear.
Loot-nya bukan uang.
Tapi satu kesimpulan kecil:
Tidak semua last boss perlu dibunuh.
Sebagian hanya perlu diingatkan:
mereka bukan boss.
0 komentar