Tai yang Diparfum: Dari Balkon Rumah Sampai Ruang Rapat Negara

by - 6:00 PM

Saya pernah berdiri pagi-pagi di balkon lantai dua, menatap sesuatu yang tidak bisa disangkal oleh filsafat mana pun: tai.

Bukan metafora. Bukan simbol. Tai beneran. Masih hangat secara eksistensial.

Refleks pertama saya manusia modern: curiga. Jangan-jangan hantu. Jangan-jangan pertanda. Jangan-jangan semesta mau ngomong sesuatu.
Tapi setelah saya dekati, dicium sebentar oleh logika, jelas: ini kotoran burung. Titik.

Tidak ada yang salah. Burung numpang lewat. Saya bersihkan. Selesai.
Tai tetap tai. Tidak saya beri nama lain. Tidak saya buat konferensi pers.

Dan di situ saya sadar, betapa jujurnya tai.
Ia tidak pernah mengaku sebagai parfum.

Masalah mulai muncul ketika saya memperhatikan dunia yang lebih luas.
Di luar balkon rumah, ada tai-tai lain yang tidak dibersihkan.
Bukan karena tidak terlihat—justru karena dibungkus rapi.

Di level negara, tai jarang disebut tai.
Ia naik kelas menjadi kebijakan strategis.
Kadang penyesuaian regulasi.
Kadang demi stabilitas.
Kadang untuk kepentingan nasional.

Lucunya, baunya tetap sama.

Saya tidak anti kebijakan. Saya anti pemutihan aroma.
Karena tai yang dikasih parfum tetap tai, hanya membuat orang ragu:
“Ini tai, atau saya yang kurang nasionalis penciumannya?”

Yang lebih berbahaya dari tai adalah normalisasi tai.
Dimulai dari kalimat sakral:
“Ah, cuma sedikit.”
“Ah, masih wajar.”
“Ah, dulu juga gitu.”

Saya pernah hidup di masa “ah sedikit ini”.
Makan daun liar. Bertahan. Survival.
Tapi ada jangkar batin: ambil seperlunya, jangan rakus, tahu batas.

Masalahnya, di level kekuasaan, jangkar itu sering dilepas.
Yang tadinya survival berubah jadi kebiasaan.
Yang tadinya darurat berubah jadi sistem.
Yang tadinya tai, sekarang dipresentasikan pakai slide PowerPoint.

Saya tertawa pahit saat menyadari ini:
negara sering tidak runtuh karena krisis besar,
tapi karena terlalu lama hidup berdampingan dengan tai kecil yang disebut “strategis”.

Dan di titik ini, saya justru bersyukur pernah berhadapan dengan tai burung di balkon.
Ia melatih saya untuk tidak berlebihan.
Tidak main racun.
Tidak pasang CCTV.
Tidak membuat kebijakan nasional untuk seekor burung.

Cukup dibersihkan.
Cukup disadari.
Cukup jujur menyebut: ini tai.

Karena mungkin, kedewasaan sebuah bangsa—dan seorang manusia—bukan di seberapa canggih dia menamai sesuatu,
tapi di keberaniannya berkata:

“Ini bau. Ini salah. Ini harus dibersihkan.
Jangan diparfumkan.”

Saya menutup pagi itu dengan senyum kecil.
Bukan karena dunia bersih.
Tapi karena saya tidak lagi tertipu oleh wangi palsu.

Tai tetap tai.
Dan kebijakan strategis—kalau baunya sama—ya jangan baper kalau dipanggil begitu.

You May Also Like

0 komentar