Pedagang Emosi yang Lelah Menjajakan Amarahnya Sendiri

by - 12:00 AM

Saya mulai curiga bukan karena politik, bukan pula karena agama. Kecurigaan itu datang dari hal sepele: kolom komentar. Ributnya terlalu konsisten, marahnya terlalu rapi, dan sasarannya selalu berpindah-pindah, tapi polanya sama. Seperti pedagang keliling yang menjajakan barang sama, hanya ganti teriakan.

Awalnya saya pikir ini cuma soal perbedaan pendapat. Wajar. Manusia memang tidak diciptakan seragam. Tapi lama-lama saya sadar, ini bukan lagi soal pendapat. Ini soal umpan. Seseorang melempar kalimat yang sudah dipelintir, lalu ribuan orang berlari mengejarnya, saling cakar, saling gigit, padahal ujungnya kosong.

Akun-akun itu namanya pun aneh. Bukan pers, bukan individu jelas, bukan siapa-siapa. Tapi mereka punya satu keahlian: tahu di mana harus menusuk. Dan masyarakat kita—yang lelah, tertekan, dan lapar validasi—menyambut tusukan itu dengan sukacita. Marah bersama terasa lebih nikmat daripada berpikir sendirian.

Yang membuat saya makin geli sekaligus getir: kini bukan hanya akun “berita” yang melakukannya. Akun masak ikut menyelipkan sindiran. Akun traveling menyiram minyak. Akun kalam mengutip ayat dengan nada umpan. Semua seakan paham satu hal: marah adalah komoditas paling murah dan paling laku.

Saya tidak heran. Algoritma tidak pernah bertanya niat. Ia hanya menghitung reaksi. Dan reaksi paling cepat adalah emosi paling primitif. Tidak perlu panjang, tidak perlu benar, cukup bikin panas.

Di titik itu saya tertawa sendiri. Kalau begitu, akun daster saya pun bisa ikut main. Lempar bola panas versi daster. Tapi saya tahu hasilnya: bukannya ribut, yang muncul justru keanehan. Orang bingung mau marah ke siapa. Daster terlalu jujur untuk dipolitisasi. Ia tidak punya ideologi, hanya lipatan kusut dan noda cucian.

Dan di situlah letak masalahnya: kemarahan butuh topeng serius, sementara kejujuran sering kali tampil lucu.

Saya makin yakin, banyak dari mereka yang melempar umpan sebenarnya sudah lelah. Lelah menjaga persona. Lelah berpura-pura peduli. Lelah harus selalu berada di pihak tertentu. Tapi karena marah pernah laku, mereka terus menjualnya, meski dagangannya sendiri sudah tidak mereka percaya.

Masyarakat pun sama. Kita ikut marah bukan karena paham, tapi karena takut tertinggal. Takut tidak ikut ribut berarti tidak relevan. Padahal setelah layar ditutup, tidak ada yang benar-benar menang. Yang ada hanya sisa capek dan emosi basi.

Kadang saya membayangkan: bagaimana jika suatu hari tidak ada yang menyambar umpan itu? Tidak ada yang mengejar stick imajiner. Tidak ada yang terpancing. Mungkin para pedagang emosi itu akan berhenti, bukan karena sadar, tapi karena pasarnya mati.

Sampai hari itu tiba, saya memilih posisi paling aman: mengamati sambil tersenyum tipis. Tidak merasa paling benar, tapi cukup sadar bahwa tidak semua yang berisik layak ditanggapi.

Kalau dunia ini panggung besar kemarahan, biarlah saya duduk di pojok, pakai daster, menyeruput kopi, dan mencatat satu hal penting:

yang paling cepat lelah bukan mereka yang dimarahi, tapi mereka yang setiap hari menjual amarahnya sendiri.


You May Also Like

0 komentar