SOP Itu Dingin, Manusianya yang Mudah Terbakar

by - 12:00 AM

Saya ini pedagang kecil, hidup di dalam SOP marketplace.

Alurnya sederhana, bahkan membosankan: ada pesanan, saya proses, paket dijemput ekspedisi yang dipilih sistem. JNE, J&T, Ninja, siapa saja, saya manut. Saya bukan dewa logistik, saya cuma tukang kirim daster.

Sebagian besar paket sampai dengan selamat. Kadang hilang, platform mengganti. Kadang bermasalah, dan di situlah manusia mulai kelihatan.

Masalah pertama: paket retur.
Secara teori, ini harusnya aman. Pembeli menolak, paket balik ke saya. Selesai.
Tapi realitas suka iseng. Saya kirim daster baru, yang balik… baju bekas. Bau kehidupan orang lain. Riwayat tak jelas.

Saya tidak marah.
Marah ke siapa?
Ke kurir? Ke sistem? Ke semesta?
Saya memilih jalan paling dingin: buka tiket. Saya lapor fakta, tanpa emosi. Platform menilai, saya menang, kompensasi cair. Selesai.

Masalah kedua justru lebih absurd: ekspedisinya tidak terima saya menuntut keadilan.

Mereka bilang, “Paket kan sudah diterima seller.”
Benar.
Yang tidak benar: isinya.

Saya jelaskan baik-baik, saya ajukan banding karena barang bermasalah, bukan karena paketnya nyasar. Tapi nada mereka naik. Tekanan datang. Diminta cabut laporan.

Di titik itu saya sadar, ini bukan lagi soal paket, tapi soal ego.

Saya jawab datar, tanpa emosi, tanpa ancaman:

“Saya sudah berusaha sabar menghadapi tekanan Anda.
Saya mengajukan tiket karena barang saya bermasalah.
Anda tidak berhak mengintervensi relasi seller dengan platform.”

Nada saya biasa saja.
Tapi rupanya, kalimat SOP yang dingin terasa seperti tusukan bagi orang yang hidup dari emosi.

Beberapa jam kemudian, nadanya berubah. Sopan. Menurun.

“Sore mas, paket masih tahap banding, mohon dicek.”

Saya jawab tetap datar:
“Baik.”

Belakangan, saya tahu dampaknya.
Gudang yang biasa pickup, tiba-tiba tidak mau jemput lagi. Disarankan antar ke gerai lain.

Saya tertawa kecil.
Bukan karena menang, tapi karena ironis.

Manusia ini bicara SOP, tapi tidak sanggup hidup di dalam SOP.
Ketika sistem berjalan adil, ia panas.
Ketika aturan dipakai tanpa drama, ia merasa diserang.

Tapi saya juga tidak mau sok suci.

Saya tahu, kerja di gudang itu keras. Target gila. Tekanan brutal. Emosi numpuk.
Orang capek memang susah jernih.
Dan sering kali, yang paling mudah dilempar adalah seller kecil yang taat aturan.

Saya tidak dendam.
Saya tidak merasa lebih tinggi.
Saya cuma mencatat satu hal penting:

SOP itu netral.
Yang sering bermasalah bukan sistemnya, tapi manusia yang ingin SOP tunduk pada emosinya.

Kalau aturan hanya enak saat menguntungkan kita,
itu bukan SOP.
Itu selera.

Dan saya, pedagang daster, memilih tetap berdiri di jalur dingin itu.
Karena di dunia yang penuh orang kebakaran jenggot,
kepala dingin justru terasa paling radikal.

You May Also Like

0 komentar