Alumni Ramalan Kiamat dan Omzet Daster yang Masih Aman

by - 12:00 AM

Sinis saya sebenarnya sederhana.

Bukan buat merendahkan, apalagi menantang langit.

Sinis saya itu alat bantu napas.

Kalau pun kiamat—entah lewat longsor, gempa, atau saya kepleset di kamar mandi—lalu mati, apa yang aneh?

Manusia memang mati.

Itu satu-satunya kepastian yang tidak perlu video subuh untuk menguatkannya.

Saya sinis supaya kepala saya tidak runtuh duluan.

Supaya hari-hari bisa dijalani tanpa ditindih suasana mencekam seolah dunia besok tutup permanen.

Karena faktanya begini:

emak-emak masih nyapu taman.

Masih ada yang ribut harga cabai.

Masih ada yang beli daster—dan alhamdulillah, omset saya aman.

Negara belum ambruk.

Langit belum jatuh.

Dan hidup, dengan segala remehnya, masih berjalan.

Buat saya, iman tidak harus hidup di mode darurat terus-menerus.

Takut boleh, waspada perlu, tapi panik kolektif itu melelahkan.

Dan saya sudah capek hidup dalam ketegangan yang belum tentu datang.

Sinis saya bukan karena saya tidak percaya kiamat.

Justru karena saya percaya hidup hari ini juga layak dijalani dengan waras.

Kalau besok kiamat, ya kita hadapi.

Kalau tidak, ya jangan buang hari ini dengan ketakutan yang dipinjam dari video orang lain.

Mungkin itu sebabnya saya tertawa.

Bukan karena meremehkan akhir zaman,

tapi karena saya ingin menuntaskan hari ini—

minum kopi, jualan daster, mengasuh anak, dan bernapas utuh—

tanpa harus merasa bersalah karena dunia belum runtuh juga.

Dan kalau Tuhan melihat saya tertawa,

saya harap Ia paham:

itu bukan ejekan,

itu cara saya bertahan.

You May Also Like

0 komentar