Pasti Pas, Tapi Pas Salah: Catatan Tukang Daster yang Ikut Jahat ke Tagline

by - 6:00 PM

Saya awalnya cuma penonton.

Menonton akun-akun palsu brand saling serang, saling olok, saling lempar kata kasar yang dibungkus humor.
Lucu, iya.
Cerdas? Bisa jadi.
Berbahaya? Diam-diam, iya juga.

Lalu entah kenapa, kepala saya ikut-ikutan.
Bukan buat diposting.
Bukan buat dikampanyekan.
Cuma buat katarsis internal, semacam gumaman batin orang yang kebanyakan mikir sambil nyeduh kopi.

Dan di situlah saya sadar:
ternyata gampang sekali jadi jahat, kalau cuma main plesetan.


Saya mulai dari yang paling aman: tagline.

LG – Life’s Good / Ideas for Life
Dalam kepala saya lewat begitu saja:

“Ideas for life, tapi produknya kok idenya kadang aneh-aneh ya?”

Bukan marah.
Lebih ke bingung.
Ini kulkas apa UFO, ini TV apa lukisan abstrak?
Life’s good… tapi manualnya 80 halaman.

Saya tertawa sendiri.
Catat: tertawa sendiri adalah tanda katarsis, bukan kebencian.


Lalu bergeser ke minimarket langganan.

Alfamart – Belanja Puas Harga Pas
Di kepala saya muncul dialog batin klasik:

“Harga pas di rak, tapi pas di kasir… kok beda?”

Ini bukan fitnah.
Ini pengalaman kolektif bangsa.
Dan biasanya diakhiri dengan kalimat sakral kasir:

“Maaf kak, yang ikut sistem.”

Sistem siapa?
Sistem semesta mungkin.

Belanja tetap lanjut.
Kesal sebentar.
Besok belanja lagi.
Tagline tetap menempel di kepala, tapi dengan catatan kaki kecil.


Lalu yang paling menggoda untuk dijahati:
yang terlalu percaya diri dengan kata pasti.

Pertamina – Pasti Pas

Saya langsung ketawa.
Bukan karena bensinnya.
Tapi karena sejarah panjang kata pasti di negeri ini.

Pasti pas…
Pas ributnya.
Pas intriknya.
Pas dramanya.

Sekali lagi, ini bukan makian.
Ini refleksi orang dewasa yang sudah tahu:
institusi besar itu bukan malaikat, tapi kumpulan manusia dengan segala kebocorannya.

Saya tetap isi bensin.
Tetap bayar.
Tetap jalan.

Tagline-nya?
Ya… saya simpan di laci humor internal.


Di titik ini saya berhenti.
Bukan karena kehabisan bahan,
tapi karena sadar satu hal penting:

👉 Kalau semua tagline kita jadikan bahan olok-olok, lama-lama kepala kita penuh stigma.

Dan stigma itu licik.
Dia nempel.
Pas beli, kita sudah curiga duluan.
Padahal produknya belum salah apa-apa hari itu.

Saya tidak mau brand saya—
entah itu usaha daster, nama pribadi, atau reputasi kecil saya—
jadi pelaku atau korban pola yang sama.


Akhirnya saya mengerti:
Humor kasar brand itu seperti sambal.
Sedikit bikin nagih.
Kebanyakan bikin sakit perut.

Lucu untuk ditertawakan.
Berbahaya kalau dijadikan kebiasaan.

Maka saya simpan semua plesetan itu di tempat yang aman:
di kepala,
di catatan pribadi,
di obrolan reflektif dengan AI.

Tidak untuk dilempar ke publik.
Tidak untuk cari sorak.

Cukup untuk satu fungsi saja:
melepaskan tekanan tanpa merusak apa-apa.

Dan setelah itu?
Saya kembali jualan daster.
Senyum.
Spill produk dengan sabar.
Tanpa plesetan.

Karena hidup saya sudah cukup pas,
tanpa harus bikin segalanya salah. 😄

You May Also Like

0 komentar