Tentang Limbah, Istri Saya, dan Paradoks Bernama “Tolong Ngerti Aku”
Saya pernah ngobrol dengan istri tentang satu konsep yang entah kenapa terasa sangat ilmiah padahal lahir dari emosi receh:
etika tidak memungut tai di media sosial.
Dia ketawa.
Ketawa yang tulus.
Yang artinya: ini lucu, tapi kok ada benarnya.
Lalu saya nyeletuk, setengah sok bijak, setengah sok selamat:
“Makanya kalau kamu lagi marah, aku anggap kamu lagi buang limbah. Jadi aku nggak ikut-ikutan marah. Nanti malah bau limbahnya ke mana-mana.”
Di titik itu, senyumnya berubah.
Bukan marah.
Lebih ke… tersipu sambil denial.
“Ya setidaknya ngomong dong kalau aku lagi marah,” katanya.
Saya diam sebentar.
Lalu tertawa kecil, karena ini bagian paling lucu dari paradoks manusia.
Karena faktanya begini:
waktu dia ngomong kalau dia lagi marah,
saya coba menenangkan,
hasilnya?
Dia makin kencang marahnya.
Saya melembut,
dia bilang saya nggak asik.
Saya diam,
dia bilang saya nggak peduli.
Saya ikut emosi,
dia bilang saya nggak dewasa.
Emosinya…
terbang begitu saja.
Dan di situlah saya sadar:
kadang manusia itu tidak butuh solusi,
tidak butuh pengertian tingkat dewa,
bahkan tidak butuh respon yang benar.
Yang dibutuhkan cuma satu hal yang paradoksal:
diakui sedang marah, tanpa diurus.
Masalahnya, naluri manusia—terutama yang merasa “waras”—
adalah mengelola emosi orang lain.
Menjinakkan.
Merapikan.
Membenahi.
Padahal yang satu ini cuma lagi buang limbah.
Dan limbah itu, kalau diambil,
ya jelas bau.
Akhirnya kami tertawa berdua.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tapi karena kami sama-sama sadar:
kami sedang berdiri di dua logika yang sama-sama masuk akal,
tapi tidak bisa dipakai bersamaan.
Dia ingin dimengerti tanpa ditenangkan.
Saya ingin menenangkan tanpa ikut tenggelam.
Dan di situlah paradoks rumah tangga bekerja dengan sempurna.
Sejak itu, saya belajar satu hal kecil tapi penting:
kalau ada emosi yang sedang terbang,
jangan dikejar.
Nanti capek sendiri.
Biarkan dia muter dulu.
Jatuh sendiri.
Baru disapu.
Karena kadang,
bukan siapa yang benar atau salah,
tapi siapa yang tidak jadi ikut bau.
0 komentar