Saya Tidak Takut Hantu, Saya Hanya Tidak Suka Sunyi

by - 12:00 AM

Dulu, saya pikir masalah saya sederhana: takut hantu.

Solusinya juga sederhana: jangan sendirian, jangan gelap, dan kalau bisa, putar sesuatu—apa saja—asal bukan sunyi.

Belakangan saya sadar, ini seperti menuduh tetangga padahal yang bocor itu atap rumah sendiri.

Saya tidak takut hantu.
Saya takut gelap.
Dan lebih dari itu, saya takut sepi.

Gelap membuat mata kehilangan pegangan. Sepi membuat telinga seperti masuk ruang hampa. Dalam kondisi itu, otak saya bekerja lembur tanpa diminta: mengisi kekosongan dengan apa pun yang paling dramatis. Maka muncullah makhluk metafisik, lengkap dengan reputasi dan mitologi turun-temurun. Bukan karena mereka benar-benar datang, tapi karena otak saya tidak suka ruang kosong.

Lucunya, saya tidak butuh makhluknya. Saya hanya butuh alasan untuk waspada.

Karena itu, suara menjadi penyelamat.
Hujan boleh.
Kipas angin boleh.
Musik boleh.
Tabuhan panci yang disepakati sebagai musik juga tidak apa-apa, asal ada bunyi.

Puncaknya, saya menyalakan murotal, ngaji.

Di awal, niatnya sangat heroik (dan sedikit sinetron): supaya tidak ada hantu, jin, atau entitas yang niatnya kurang baik. Saya seperti berkata pada alam semesta, “Silakan lewat, tapi jangan mampir.”

Namun, setelah beberapa waktu, saya menangkap sesuatu yang agak mengganggu ego:
saya menyalakan murotal bukan untuk mengusir siapa pun, tapi supaya ada suara yang menemani.

Dan di situ saya tertawa kecil.
Ternyata ini bukan soal iman vs makhluk halus. Ini soal saya tidak tahan sendirian dengan kepala saya sendiri dalam kondisi sunyi total.

Yang lebih mengejutkan, perubahan berikutnya datang tanpa saya undang.

Dulu, saya hampir selalu bekerja ditemani musik. Rasanya produktif, hidup, dan “anak kreatif”. Sekarang? Musik malah terasa seperti orang cerewet yang duduk di sebelah saya saat saya sedang mikir serius.

Saya tidak marah. Saya hanya ingin dia diam.

Sekarang, cukup bunyi kipas angin.
Tidak perlu lagu.
Tidak perlu lirik.
Tidak perlu beat yang katanya bikin fokus.

Musik yang dulu jadi penyelamat, kini berubah menjadi noise.

Di titik ini, saya sadar:
ini bukan saya menjadi sensitif, tapi sistem saraf saya sedang pensiun dari mode siaga.

Dulu, saya butuh suara keras untuk menutupi ketakutan.
Sekarang, saya hanya butuh tanda kecil bahwa dunia masih ada dan saya aman di dalamnya.

Perubahan ini tidak dramatis. Tidak ada momen pencerahan ala film. Tidak ada kilatan cahaya atau suara “aha!”. Yang ada hanya kesadaran pelan-pelan bahwa:

ketakutan saya tidak hilang, tapi ia berhenti menyamar.

Ia turun pangkat.
Dari monster menjadi kebutuhan dasar: rasa aman, kehadiran, dan sedikit kebisingan yang ramah.

Dan mungkin, itu tanda dewasa yang paling jujur:
bukan ketika kita berani melawan ketakutan,
tapi ketika kita cukup tenang untuk mengerti apa sebenarnya yang kita butuhkan.

Kalau pun masih ada suara yang saya nyalakan hari ini, itu bukan lagi untuk mengusir apa pun.
Hanya untuk menemani.

Dan rasanya, itu sudah lebih dari cukup.


You May Also Like

0 komentar