Ternyata Bukan Tuhan yang Rumit,

by - 6:00 AM

Manusia Saja yang Terlalu Kreatif Memonetisasi Langit

Saya belakangan sering tersenyum sendiri, senyum yang tidak benar-benar bahagia tapi juga tidak sepenuhnya pahit. Semacam senyum orang yang baru sadar: oh… ternyata begini polanya.

Saya tidak sedang bingung dengan Tuhan.
Yang membuat saya lelah justru manusia—yang terlalu rajin mewakili Tuhan tanpa surat kuasa.

Saya tumbuh dengan keyakinan sederhana: agama itu urusan nilai, laku, dan empati. Tapi di perjalanan, saya menemukan versi lain yang lebih canggih: agama sebagai produk, lengkap dengan strategi pemasaran dan skema keuntungan.

Mulainya halus.

“Sedekah itu membuka pintu rezeki.”

Kalimat ini indah. Saya setuju.
Sampai satu hari kalimat itu berubah bentuk:

“Sedekahnya lewat yayasan ini saja.”

Saya menoleh.
Yayasannya punya logo besar.
Pengurusnya satu orang.
Mobilnya… Alphard.

Di titik itu, batin saya refleks bertanya dengan polos:
Bukankah ini aneh?

Di mimbar, beliau berkata:

“Jangan terlena dunia.”

Kalimat itu meluncur mulus dari jok kulit, dengan AC dingin, hasil sedekah pedagang kecil yang siang malam mengipas dagangan sambil berharap keajaiban.

Ini bukan soal iri.
Ini soal kontradiksi yang terlalu terang untuk diabaikan.

Lalu datang logika favorit:

“Kalau kamu memberi banyak, Allah akan memberi lebih banyak.”

Kalimat ini sering terdengar seperti nasihat iman, padahal struknya mirip transaksi:

  • kamu ngasih → saya terima

  • saya terima → Allah mencatat

  • Allah mencatat → kamu berharap balik modal

Sedekah berubah jadi investasi spiritual berbunga, dengan satu perantara wajib: si pemberi ceramah.

Seolah-olah Tuhan berkata:

“Maaf, transfer langsung sedang gangguan.
Silakan lewat rekening hamba-Ku yang satu ini.”

Saya mulai sadar, yang sedang terjadi bukan krisis iman, tapi krisis nalar yang dibungkus dalil.

Yang membuat saya tertawa—dan ini tawa yang sedikit kejam—adalah betapa rapuhnya logika ini jika ditarik ke dunia nyata. Karena begitu saya bertanya pelan:
“Kenapa Tuhan Yang Maha Kaya butuh sistem distribusi yang boros?”

Biasanya suasana langsung berubah.
Bukan jadi diskusi.
Tapi jadi ceramah.

Dan ceramah sering kali adalah cara elegan untuk menghindari pertanyaan.

Saya tidak menolak sedekah.
Saya tidak menolak agama.
Saya hanya alergi pada momen ketika iman dijadikan alat tekan psikologis:

  • kalau tidak ngasih, imanmu dipertanyakan

  • kalau kritis, akalmu dianggap kurang tunduk

Di situ saya memilih humor.
Karena kadang, tertawa adalah bentuk terakhir dari akal sehat yang tersisa.

Saya tertawa bukan karena ini sepele, tapi karena kalau tidak ditertawakan, kita bisa ikut percaya bahwa:

  • kekayaan adalah tanda kesalehan

  • kemiskinan adalah kurang ikhlas

  • dan kritik adalah dosa kecil

Pelan-pelan saya sampai pada satu kesimpulan yang menenangkan:

Ternyata bukan Tuhan yang rumit.
Manusia saja yang terlalu kreatif memonetisasi langit.

Tuhan—kalau Ia memang Maha—tidak butuh sales.
Tidak butuh ancaman.
Tidak butuh testimoni “saya dulu miskin, setelah setor sekian…”

Yang sering butuh itu justru manusia,
yang ingin hidup nyaman sambil tetap terlihat suci.

Sekarang, setiap kali mendengar ajakan yang terlalu rapi, terlalu yakin, terlalu untung satu arah, saya hanya tersenyum. Tidak marah. Tidak melawan.

Saya belajar satu hal penting:
iman yang sehat tidak panik ketika ditanya,
dan kebenaran yang utuh tidak takut ditertawakan.

Kalau Tuhan itu benar-benar Tuhan,
Ia mungkin tidak tersinggung oleh senyum sinis saya.
Yang biasanya gelisah justru mereka yang hidup dari nama-Nya.

Dan di titik itu, batin saya—anehnya—jadi lebih tenang.

You May Also Like

0 komentar