Tertawa Sebentar, Lalu Kosong — Tapi Kali Ini Tenangnya Ikut Tinggal

by - 12:00 AM

Saya tertawa juga.

Bukan karena punchline hebat, bukan karena lelucon cerdas.
Justru karena kalimat yang keluar begitu saja, tanpa niat melucu.

Di live, saya bilang:

“Bu, saya kalau lagi sendiri biasanya males ngobrol. Kebetulan lagi live aja, jadi saya monolog.”

Hening sebentar.
Lalu tawa pecah.

Saya ikut tertawa, tapi dalam hati heran.
Ini lucu di mana, ya?

Dulu, saya tertawa karena humor slapstick. Orang jatuh, orang kepleset, orang kejedot. Tawa datang cepat, lalu pergi lebih cepat. Setelah itu kosong. Kepala seperti di-reset, tapi bukan lega—lebih ke lelah.

Sekarang aneh.
Kosongnya masih ada, tapi rasanya tenang.


Humor yang Tidak Mengejar Tawa

Saya sadar, belakangan ini saya tidak sedang “melucu”.
Saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di kepala.

Contoh lain, saya bilang:

“Saya mau close live dulu ya bu, mau sholat Jumat. Bukan karena rajin, saya biasa aja kok. Sholat Jumat paling seminggu sekali, itu pun cuma hari Jumat.”

Hening.
Lalu tawa lagi.

Saya tidak sedang menyindir agama.
Tidak juga pamer iman.
Saya hanya memutar kalimat banal sampai audiens tersadar:
“Lah iya juga ya.”

Tawa itu bukan ledakan.
Lebih seperti pintu yang kebuka pelan.


Ketika Kosong Tidak Lagi Menyeramkan

Yang menarik, setelah tawa itu reda, rasanya sama seperti habis menarik napas panjang. Kosong, iya. Tapi bukan hampa.

Berbeda dengan humor slapstick yang meninggalkan kekosongan tanpa makna, humor ini seperti membersihkan meja. Tidak ada yang ditaruh, tapi ruangnya rapi.

Mungkin karena:

  • tidak ada agresi
  • tidak ada niat menjatuhkan
  • tidak ada target untuk ditertawakan

Yang ditertawakan justru situasi hidup itu sendiri, termasuk saya.

Seperti saat ada yang tanya soal daster busui, dan saya jawab:

“Saya nggak punya bayi bu, tapi ibu masih punya bayi—bayi berjakun dan berkumis.”

Itu absurd.
Itu usil.
Tapi entah kenapa, aman.

Karena yang saya lakukan bukan mengejek, tapi mengendurkan ketegangan.


Dari Tawa ke Tenang

Saya mulai paham:
humor ini bukan tentang lucu atau tidak lucu.
Ini tentang batin yang sudah tidak ribut.

Dulu, saat batin ribut, kata-kata dipaksa rapi.
Sekarang, batin rapi → kata-kata keluar sendiri.

Itu sebabnya setelah tertawa, saya tidak ingin cari tawa lain untuk menutup kekosongan. Tidak perlu scroll lagi, tidak perlu stimulus baru.

Kosongnya tidak menuntut diisi.
Ia cukup ditinggali sebentar.


Penutup (yang tidak menutup apa-apa)

Saya masih bisa tertawa bodoh.
Masih bisa melucu receh.
Masih bisa gila sesekali.

Tapi sekarang saya tahu bedanya:

  • tawa yang menghibur lalu pergi
  • dan tawa yang meninggalkan ketenangan

Kalau humor slapstick itu seperti cemal-cemil—enak, tapi bikin lapar lagi—
humor ini seperti air putih. Tidak wah, tapi bikin tubuh berhenti rewel.

Dan mungkin itu sebabnya, setelah live selesai,
saya bisa duduk diam sebentar,
kosong,
dan baik-baik saja.

You May Also Like

0 komentar