Dana Dingin, Muka Manis, dan Benda Padat yang Akhirnya Menyerah
Komunikasi, kata orang, adalah cara manusia saling terhubung.
Belakangan saya justru merasa komunikasi itu sering dipakai seperti pancing: dilempar manis, ditarik pas ikan lengah.
Saya mulai agak benci—jujur saja—pada teman lama yang tiba-tiba muncul di layar ponsel.
Bukan karena rindu.
Bukan karena ingin ngobrol.
Biasanya kalimat pembukanya halus sekali, seperti iklan sirup menjelang puasa.
Dan saya sudah hafal kelanjutannya: pinjam uang, pinjam barang, atau minimal minta “bantuan sebentar”.
Yang bikin getir, saya pernah ada di posisi itu.
Posisi kepepet.
Posisi di mana kata sakti “dana dingin” hampir keluar dari mulut, lengkap dengan muka manis dan nada suara rendah penuh harap.
Tinggal tekan kirim.
Tinggal mengorbankan sedikit harga diri demi arus kas.
Tapi saya berhenti.
Karena saya sadar: teman saya terlihat “flow” bukan karena hidupnya tanpa masalah, tapi karena dia tidak berisik.
Dia tidak menjadikan relasi sebagai mesin ATM darurat.
Dan saya tidak ingin hubungan kami berubah jadi transaksi dengan bunga emosional.
Akhirnya saya ambil jalan ekstrem.
Bukan menelepon siapa-siapa.
Bukan pasang muka memelas.
Saya mencairkan benda padat.
Ya.
Benda yang selama ini diam, tidak menghakimi, tidak menanyakan kabar palsu.
Agunan.
Barang.
Besi, emas, atau apa pun yang bisa berubah wujud jadi uang tanpa perlu basa-basi.
Lucunya, setelah itu kepala saya justru ringan.
Tidak ada rasa berutang budi.
Tidak ada janji manis yang menggantung.
Tidak ada relasi yang berubah rasa.
Dari situ saya paham satu hal kecil tapi penting:
tidak semua masalah harus diselesaikan lewat manusia.
Dan tidak semua komunikasi pantas dipaksakan atas nama “teman lama”.
Kadang, menjaga relasi justru berarti menahan diri untuk tidak menghubungi.
Menyelamatkan persahabatan dengan cara yang paling sunyi:
diam, dan membiarkan benda padat yang bicara.
0 komentar