Capek Itu Ternyata Bukan di Setir, Tapi di Menahan Diri
Saya baru sadar, capek itu tidak selalu datang dari jarak.
Kadang justru dari 15 menit paling singkat dalam hidup: antar anak sekolah.
Lucunya, saya pernah nyetir 12 jam ke rumah mertua. Anak istri tidur sepanjang jalan, saya ditemani musik, badan pegal iya, tapi hati masih utuh. Sampai tujuan masih bisa haha-hihi sama tetangga. Tidak ada sisa amarah. Tidak ada residu batin.
Bandingkan dengan nyetir 15 menit di pagi hari.
Baru keluar rumah, sudah disambut:
- potong lajur tanpa sein
- rem mendadak
- mobil maksa masuk sambil bilang, “Saya buru-buru antar anak sekolah.”
Saya sempat mikir:
Bu, dikira ibu doang yang antar anak? Saya ke gerbang sekolah bawa mobil mau piknik?
Saya tidak marah.
Saya mengalah.
Saya senyum tipis.
Saya lewatkan.
Dan justru itu yang bikin badan lunglai seharian.
Di situ saya nemu polanya.
Yang bikin capek bukan nyetir.
Tapi menahan diri secara aktif.
Setiap kali dipotong lajur, batin saya kerja:
“Udah… sabar… jangan ribut… anak ada di mobil… pagi-pagi…”
Saya menang. Berkali-kali.
Tapi menang tanpa selebrasi.
Dan kemenangan tanpa pelepasan emosi itu mahal.
Bayarnya pakai lelah.
Saya juga mulai paham kenapa saya lebih santai kalau spion kesenggol. Tinggal diluruskan, selesai. Tapi ketemu pengendara arogan, rasanya beda. Itu bukan nyenggol bodi, tapi nyenggol harga diri—diam-diam.
Soal mobil LCGC, saya tidak sedang merendahkan. Ini bukan soal harga mobil. Ini soal fenomena: rasa berkuasa datang lebih cepat daripada kesiapan mental. Kendaraannya ringkih, emosinya ringkih, egonya keras. Kombinasi yang kalau ditabrakkan—bukan ke mobil—tapi ke relasi sosial, hasilnya ya baku hantam gara-gara spion.
Saya memilih mengalah.
Bukan karena takut.
Tapi karena malas berurusan dengan ledakan orang lain.
Sayangnya, tubuh saya tetap mencatat semua yang saya tekan.
Di titik ini saya baru ngerti kenapa:
- nyetir jauh → capek fisik, tapi jiwa adem
- nyetir sebentar → badan lunglai, kepala penuh
Karena yang satu fokusnya tunggal, ritmenya stabil.
Yang satu penuh gangguan, agresi kecil, dan tuntutan untuk tetap waras.
Saya kira saya capek.
Ternyata saya habis menahan banyak hal yang layak dilepaskan.
Kesimpulannya sederhana, dan jujur saja agak menenangkan:
Saya tidak lelah karena lemah.
Saya lelah karena terlalu sering memilih tidak jadi setan di jalan.
Dan mungkin, mulai sekarang, kalau saya merasa lunglai setelah nyetir sebentar, saya tidak perlu menghakimi diri sendiri. Cukup bilang:
“Oh… ini residu sabar.”
Lalu cari cara melepasnya dengan sehat.
Entah lewat humor, tulisan, musik, atau sekadar mengaku ke diri sendiri bahwa menahan diri juga kerja berat.
Karena ternyata,
capek itu bukan di setir.
Capek itu di ego yang saya suruh duduk manis terlalu lama.
Dan hari ini, setidaknya, saya tahu kenapa.
0 komentar