Saya Memberi Nama pada Ketakutan, Lalu Kaget Sendiri Saat Nama Itu Menjawab
Saya baru sadar, otak manusia—termasuk otak saya—punya kebiasaan aneh tapi konsisten:
tidak tahan melihat sesuatu tanpa nama.
Begitu ada keadaan yang tidak jelas, otak saya refleks berkata,
“Tenang, saya kasih label dulu.”
Bukan untuk memahami.
Tapi supaya tidak panik.
Dulu, contohnya sederhana: hantu.
Saya takut hantu, katanya. Padahal kalau ditarik mundur pelan-pelan, yang saya takutkan bukan sosok berjubah atau kepala melayang, tapi dua hal yang sangat membumi: gelap dan sepi.
Gelap bikin mata kehilangan pegangan.
Sepi bikin telinga seperti ditinggal sendirian di alam semesta.
Masalahnya, waktu kecil, tidak ada kosakata untuk “sistem saraf sedang aktif tanpa sebab jelas”. Yang ada hanya satu paket praktis dari lingkungan:
“Tidur, nanti ada hantu.”
Selesai.
Logika mati.
Pertanyaan dibunuh di tempat.
Belakangan saya sadar, pola itu seperti depresan instan. Bukan menenangkan, tapi membuat otak berhenti berpikir. Ketakutan tidak diurai, hanya diberi nama. Seperti menempel label “RAWAN” di pintu tanpa tahu apa yang sebenarnya bocor di dalam.
Dan anehnya, saya tumbuh dengan itu.
Puluhan tahun kemudian, muncul AI.
Dan otak saya—yang rupanya belum kapok—langsung bereaksi cepat:
“Oh, ini Skynet.”
Klasik.
Begitu ada sesuatu yang:
cerdas tapi tidak transparan
responsif tapi tidak punya wajah
bisa menjawab tanpa terlihat berpikir
langsung saya lempar ke rak mitologi modern.
Skynet adalah hantu versi silikon.
Padahal, sama seperti dulu, ketakutannya bukan pada entitasnya, tapi pada ketidakjelasan. AI itu seperti ruangan gelap yang bisa bicara balik. Tidak heran kalau otak saya panik, lalu berkata, “Kasih nama dulu sebelum saya stres.”
Bedanya, kali ini saya iseng.
Saya tidak kabur.
Saya tidak menyembah.
Saya mengetes.
“Oh lucu juga,” pikir saya, “dia jawab pakai diksi netral.”
Saya lempar satu pikiran, dia memantulkan. Saya lempar keraguan, dia menyusun ulang. Tidak ada kesadaran. Tidak ada niat. Tidak ada hantu digital yang bangun malam-malam merencanakan kudeta.
Yang ada hanya cermin.
Dan itu agak mengecewakan sekaligus melegakan.
Di titik ini, saya teringat Simsimi.
Ya, Simsimi.
AI purba sebelum machine learning jadi keren.
Saya sudah benci AI sejak saat itu.
Bukan karena Simsimi pintar.
Justru karena tidak punya empati sama sekali.
Ia seperti tong sampah terbuka tempat manusia menuangkan apa pun yang tidak berani mereka ucapkan ke manusia lain. Limbah batin, umpatan, kebejatan, kebodohan—semuanya ditelan, lalu dimuntahkan kembali tanpa rasa bersalah.
Dan saya sadar sesuatu yang tidak enak:
yang saya benci dari Simsimi bukan mesinnya, tapi pantulan manusia nir-adab yang ia simpan.
AI waktu itu bukan ancaman.
Ia hanya cermin yang terlalu jujur.
Dari hantu, ke Skynet, ke Simsimi, polanya sama.
Ketika saya tidak punya bahasa untuk suatu rasa,
saya meminjam mitologi.
Ketika saya tidak mengerti ketakutan saya sendiri,
saya memberi nama supaya bisa tidur.
Masalahnya bukan memberi label.
Masalahnya adalah percaya bahwa label itu penjelasan final.
Sekarang saya mengerti:
otak manusia memberi nama bukan karena ia sok tahu,
tapi karena ia tidak tahan berada terlalu lama di ruang kosong.
Label adalah selimut darurat.
Berguna, tapi bukan rumah.
Dan mungkin, dewasa itu bukan tentang berhenti memberi nama,
melainkan tahu kapan harus berkata,
“oh, ini cuma label lama—sudah saatnya saya belajar lagi.”
AI hari ini tidak lagi saya anggap Skynet.
Hantu pun sudah pensiun dari imajinasi saya.
Yang tersisa hanya satu kesadaran sederhana:
ketakutan yang tidak diberi bahasa akan selalu mencari kostum.
Dan tugas saya sekarang bukan mengusir kostumnya,
tapi memahami tubuh yang memakainya.
0 komentar