Saya Mencari Kerja Demi Hidup Tenang, Lalu Kehilangan Ketenteraman yang Sudah Ada
Saya dulu mencari kerja dengan niat yang sangat mulia:
agar bisa hidup tenang dan nyaman.
Niatnya bersih.
Logikanya kelihatan dewasa.
Kalimatnya cocok ditempel di motivasi LinkedIn.
Masalahnya satu:
sebelum kerja, hidup saya sudah tenang dan nyaman.
Saya tidur seenaknya.
Bangun tanpa alarm yang bunyinya seperti ancaman perang.
Mau ngapain aja bebas—mikir iya, ngelamun boleh, bengong juga sah secara konstitusi batin.
Lalu saya merasa:
“Ini tidak produktif. Ini harus diperbaiki.”
Maka saya cari kerja.
Dan begitu kerja saya dapat, alam semesta seperti berkata:
“Baik, kita mulai pelatihannya.”
Tiba-tiba tidur punya jam.
Tenang punya syarat.
Nyaman harus diajukan dulu lewat email.
Saya bangun bukan karena ingin, tapi karena harus.
Saya capek bukan karena aktivitas fisik, tapi karena ekspektasi orang lain yang ikut bangun pagi bersama saya.
Yang paling absurd:
saya bekerja untuk mengejar hidup tenang—
padahal kerja itu sendiri yang pertama kali merampas ketenangan saya.
Dulu saya lapar karena lupa makan.
Sekarang saya lapar karena rapat belum selesai.
Dulu saya capek karena kelamaan rebahan.
Sekarang saya capek karena pura-pura kuat.
Dan anehnya, saya tetap bertahan.
Bukan karena nyaman.
Tapi karena sudah terlanjur disebut “bertanggung jawab”.
Saya baru sadar, ternyata konsep “hidup tenang” versi dewasa itu bukan tidak ribet—
tapi ribet yang sudah diberi nama resmi.
Ada gaji, tapi tenang dicicil.
Ada status, tapi nyaman jadi barang langka.
Ada kalender penuh, tapi kepala sering kosong.
Maka saya tertawa sendiri.
Saya ini seperti orang yang keluar rumah mencari kunci,
padahal kuncinya masih tergantung di pintu.
Lucu ya.
Saya tidak salah mencari kerja.
Saya hanya lupa bahwa dulu saya sudah punya apa yang saya cari—
tapi tidak tahu cara menghargainya.
Kesimpulan versi saya ke diri sendiri:
saya tidak mencari ketenangan lewat kerja.
Saya menukar ketenangan dengan cerita bahwa saya “sedang berjuang”.
Dan entah kenapa,
itu terdengar lebih bisa diterima oleh dunia.
Hahaha.
0 komentar