Saya Hidup di Dunia yang Isinya Saya Sendiri Menggagalkan Saya
Saya baru sadar, hidup saya ini bukan tragedi besar.
Bukan pula drama epik.
Hidup saya lebih mirip komedi situasi—yang pelakunya satu orang, penontonnya juga satu orang, dan yang paling sering diketawakan: saya sendiri.
Contoh paling sederhana:
saya panik mencari HP ke seluruh rumah, jantung naik, pikiran bercabang, mulut sudah siap menyalahkan siapa saja… lalu saya sadar, HP itu dari tadi ada di tangan saya.
Bukan hilang.
Saya cuma terlalu sibuk mencarinya sampai lupa sedang memegangnya.
Di titik itu, saya biasanya diam sebentar.
Bukan karena malu.
Tapi karena hidup barusan menampar pelan sambil bilang,
“Lu ini kenapa sih?”
Saya juga sering berniat menghemat uang.
Serius.
Niatnya tulus.
Lalu saya membeli kopi yang lebih mahal dari biasanya—dengan alasan absurd: “Sekalian aja, biar puas.”
Hemat versi saya ternyata bukan soal angka, tapi soal perasaan tidak mau kecewa.
Ironisnya, dompet saya yang paling sering kecewa.
Ada lagi kebiasaan favorit saya:
menghabiskan waktu lama untuk mencari jalan pintas.
Peta dibuka, alternatif dicari, logika diperas.
Ujung-ujungnya saya baru sadar: jalan lurus dari awal sebenarnya lebih cepat.
Saya capek bukan karena jarak, tapi karena ingin terlihat pintar memilih jalan.
Yang paling licik dari hidup ini adalah pikiran.
Saya bilang ke diri sendiri,
“Udah, jangan dipikirin.”
Dan otak saya menjawab,
“Baik. Kita pikirin bareng-bareng.”
Semakin saya berusaha tidak memikirkan sesuatu, semakin ia duduk manis di kepala saya, nyeduh kopi, dan bilang:
“Kita ngobrol yuk.”
Lalu saya membuat daftar tugas agar hidup lebih rapi.
Dan menghabiskan waktu berjam-jam…
untuk merapikan daftar itu.
Judulnya diganti, urutan diubah, warna disesuaikan.
Tugasnya?
Masih di situ. Menunggu. Sabar.
Soal tidur juga sama lucunya.
Saya ingin tidur lebih awal.
Karena besok harus bangun pagi.
Lalu saya stres memikirkan harus tidur.
Dan karena stres, saya tidak bisa tidur.
Akhirnya saya begadang—demi tujuan mulia: tidur cepat.
Ini bukan ironi lagi.
Ini lingkaran setan yang sopan.
Saya membeli peralatan olahraga.
Lengkap.
Niatnya sehat.
Yang sehat siapa?
Toko olahraganya.
Alatnya rapi di sudut rumah, seperti monumen niat baik yang tidak pernah dieksekusi.
Setiap saya lewat, alat itu seakan menatap saya dengan tatapan:
“Tenang aja, gue ngerti. Lu sibuk.”
Dalam urusan relasi, saya juga paradoksal.
Saya bilang ingin pasangan yang sempurna.
Tapi hati saya selalu jatuh ke orang yang tidak sempurna—yang cerewet, aneh, punya kekurangan, dan bikin saya repot.
Dan justru di situ saya merasa hidup.
Seolah kesempurnaan itu membosankan, tapi ketidaksempurnaan punya cerita.
Bahkan saat saya berusaha untuk tidak terlalu serius…
saya malah menjadi sangat serius dalam usaha untuk santai.
Santai versi saya pakai target, evaluasi, dan refleksi.
Di titik ini saya akhirnya mengaku ke diri sendiri:
Saya bukan tidak konsisten.
Saya manusia.
Makhluk yang sering tahu apa yang harus dilakukan, tapi tetap melakukan hal lain—bukan karena bodoh, tapi karena hidup tidak berjalan lurus seperti buku panduan.
Paradoks-paradoks kecil ini bukan tanda kegagalan.
Mereka tanda bahwa saya hidup, berpikir, merasa, dan kadang terlalu keras pada diri sendiri.
Kesimpulan saya hari ini sederhana, dan cukup melegakan:
Saya tidak perlu menjadi versi paling efisien dari diri saya.
Cukup menjadi versi yang sadar—bahwa tersesat sedikit, lupa sebentar, dan salah langkah kecil…
ternyata bagian sah dari hidup sehari-hari.
Dan kalau hari ini saya kembali mencari HP yang ada di tangan sendiri,
saya akan tertawa dulu,
lalu berkata pelan ke diri saya:
“Ya udah. Setidaknya lu masih megang hidup lu.”
0 komentar