Istri Tertidur di Kursi Depan dan Pikiran Saya yang Akhirnya Ikut Parkir

by - 12:00 PM

Ada fase dalam hidup ketika istirahat tidak pernah benar-benar istirahat. Badan duduk, tangan diam, tapi batin tetap lembur. Dulu, saat isi kepala saya tumpang tindih, sela waktu justru terasa kosong—bukan kosong yang tenang, melainkan kosong yang bising. Anehnya, hal-hal remeh tidak pernah mampir. Pikiran saya terlalu sibuk mengurusi yang besar-besar, yang berat-berat, sampai lupa bahwa hidup sebenarnya berjalan lewat detail kecil.

Sekarang berbeda. Pikiran saya seperti belajar bernapas. Ada saja yang lewat, tidak penting, tidak mendesak, tapi nyata. Salah satunya soal menyetir mobil—hal yang dulu rasanya sepele, tapi belakangan jadi semacam metafora batin yang tidak saya rencanakan.

Di awal-awal saya bisa nyetir, istri saya berada di mode siaga penuh. Matanya aktif, badannya tegang, komentarnya cepat. “Pelan.” “Jarak.” “Hati-hati.” Saya tersinggung, tentu saja. Bukan karena ia salah, tapi karena saya sedang belajar berdiri di kaki sendiri. Akhirnya saya bilang, setengah defensif, setengah memohon kepercayaan: serahkan pada saya.

Lalu waktu berjalan. Tidak ada insiden besar. Tidak ada drama. Kami sampai di tujuan dengan selamat, berulang kali. Dari situ, sesuatu mengendap—bukan hanya di kepala istri saya, tapi juga di batin saya sendiri. Kepercayaan ternyata tidak datang lewat pidato atau pembuktian heroik, tapi lewat pengulangan yang membosankan: berangkat, jalan, sampai.

Kini ada pemandangan baru yang selalu membuat saya tersenyum kecil. Saya menyalakan mesin, dan istri saya langsung menyandarkan badan ke kursi. Kadang bahkan tertidur. Bukan karena saya hebat, tapi karena ia sudah selesai berjaga. Seolah berkata tanpa suara: mau bagaimana pun, ya sudah. Kalau pun ada senggolan kecil, yang penting kami aman, mobil masih utuh, dan hidup lanjut.

Belakangan ia benar-benar mengatakannya. Dengan nada ringan, tanpa drama. Dan di situ saya sadar, fase ini bukan cuma soal menyetir. Ini tentang pola batin. Tentang bagaimana sesuatu yang awalnya bergejolak, penuh waspada dan ragu, perlahan berubah menjadi pasrah yang dewasa—pasrah yang bukan menyerah, tapi percaya.

Mungkin begitulah batin bekerja. Awalnya tegang, lalu menguji, lalu mengendap. Sampai akhirnya bisa duduk anteng, tidak perlu ikut menginjak rem imajiner. Dan saya? Saya ikut belajar. Bahwa tenang bukan berarti kosong, dan remeh-temeh justru tanda bahwa hidup sedang tidak darurat.

Jika hari ini pikiran saya bisa memikirkan hal seperti ini—istri yang tidur di kursi depan mobil—mungkin itu pertanda baik. Artinya, batin saya akhirnya berhenti berjaga. Seperti istri saya. Duduk saja. Bernapas. Percaya bahwa perjalanan, sejauh ini, masih menuju pulang.

You May Also Like

0 komentar