Segelas Susu, Ego yang Duduk Rapi, dan Realitas yang Tidak Mengigau

by - 6:00 PM

Saya lelah. Bukan lelah yang dramatis, bukan juga lelah yang perlu diumumkan ke dunia. Lelah yang cukup saya pahami sendiri. Dalam kondisi seperti itu, saya minum segelas susu murni. Sambil minum, ada kalimat kecil yang lewat di kepala saya: “Susu ini setidaknya akan mengembalikan tenaga saya.” Kalimatnya sederhana, tidak sakral, tidak juga mistis. Tapi setelahnya, tubuh saya terasa lebih tenang. Bukan karena saya tiba-tiba jadi Superman, tapi karena ada sesuatu yang kembali rapi.

Saya sempat bertanya ke diri sendiri, ini apa? Apakah saya sedang membangun ilusi? Apakah ini placebo? Atau jangan-jangan saya sedang menipu diri saya sendiri dengan harapan murahan yang dibungkus segelas susu?

Ternyata tidak. Yang saya bangun bukan khayalan, tapi kerja sama. Tubuh saya memang butuh energi. Susu memang memberi asupan. Itu fakta biologis yang tidak perlu dibela dengan filsafat tingkat tinggi. Tapi yang sering luput, tubuh tidak bekerja sendirian. Ada saraf, ada hormon, ada pikiran yang kalau sedang kusut, apa pun yang masuk ke tubuh terasa sia-sia. Maka kalimat kecil tadi bukan mantra, melainkan izin. Izin bagi tubuh untuk menerima, izin bagi pikiran untuk berhenti mencurigai keadaan.

Saya tidak sedang berbohong pada diri sendiri. Saya tahu susu bukan obat mujarab segala penyakit. Saya juga tidak sedang menolak kenyataan bahwa saya lelah. Justru sebaliknya, saya mengakuinya dengan cara yang lebih manusiawi. Saya merawat diri saya sendiri tanpa harus mengeluh, tanpa harus membenturkan kepala ke tembok realitas sambil berkata, “Ya sudah, hidup memang keras.”

Di titik itu saya paham, sentuhan yang sering disebut placebo ini bukan bias yang menyesatkan, tapi bias yang jinak. Bias yang tidak menyangkal realitas, hanya melembutkannya. Sama seperti ketika seseorang duduk sebentar sebelum melanjutkan jalan, bukan karena jalannya hilang, tapi karena kakinya perlu diberi jeda.

Yang menarik, tubuh saya merespons dengan jujur. Saat batin lebih tenang, lelah tidak berubah jadi penyakit. Saat ego tidak rewel, tubuh tidak mencari jalan pintas lewat sariawan, lambung, atau bau keringat yang berlebihan. Rupanya tubuh ini cukup adil. Ia hanya ingin diperlakukan dengan niat baik, bukan dipaksa kuat, apalagi dituduh kerasukan hanya karena kelelahan.

Di situlah saya menyadari, realitas yang saya bangun berdiri di pondasi yang sederhana: saya tahu kondisi saya, saya memberi respon yang masuk akal, dan saya tidak menambah drama di kepala saya sendiri. Segelas susu hanyalah medium. Yang bekerja adalah keselarasan kecil antara pikiran dan tubuh.

Maka kalau ada yang bertanya, “Bukankah itu cuma sugesti?” saya justru ingin tertawa pelan. Andai sugesti itu membuat tubuh lebih rapi, emosi lebih jinak, dan hidup lebih waras, kenapa harus dimusuhi? Yang berbahaya bukan sugesti, tapi kebiasaan memusuhi diri sendiri atas nama realitas.

Saya tidak sedang mencari kesaktian. Saya hanya belajar satu hal penting: merawat diri tidak selalu butuh teori rumit. Kadang cukup segelas susu, niat yang jujur, dan ego yang mau duduk sebentar tanpa ikut campur.

Dan anehnya, itu terasa lebih nyata daripada semua kecemasan yang pernah saya bangun sendirian.


You May Also Like

0 komentar